Tuesday, 8 March 2011

UTIS ITU PUNTUNG ROKOK

Jumat siang, entar waktunya pukul berapa. 26 Juni 1981, seorang bayi lahir. Proses persalinan berlangsung di Rumah Bersalin Sarinah. Kemungkinan sekarang menjadi rumah sakit milik pertamina di Jl. Mulawarman, Tarakan.

Orang tuaku: Sarnianto dan Djuminem, sepakat menamaiku Sutresno Wahyudi. Konon doa kedua orangtua nama itu memiliki arti tersendiri. Su --- merupakan perwakilan nama kedua orang tuaku. Kemudian tresno, kalau dalam bahasa Jawa diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya cinta. Kemudian wahyu, erat kaitannya dengan pemberiaan Allah dan dia sebagai tambahan.

Jadi secara keseluruhan, kedua orangtua mendoakan agar anak sulungnya ini selalu dicintai oleh siapapun dan taat kepada Allah dst. Kira-kira begitulah. Doa orangtua benar-benar ijabah. Kecilku, kata ibu, hampir tiap hari, tetanggaku berebut membawaku jalan-jalan. Mereka menyukaiku yang kata ibuku lagi, aku itu menggemaskan, lucu. Bahkan, salah satu pasangan suami istri (pasutri) yang suaminya bekerja sebagai sopir taksi membawaku keliling Tarakan dengan kendaraan tersebut tiap sore.

Oh ya, hampir saja terlupa, menjadi kebiasaanku sewaktu masa-masa balita dahulu, setiap selesai dimandikan aku selalu meminta dibawa jalan-jalan. Suatu saat, orangtuaku menyeletuk, ternyata hobiku jalan-jalan itu pertanda aku mendapati pekerjaan sebagai wartawan.


Masih soal masa kecilku, karena menyadari aku selalu minta jalan setelah dimandikan, ibuku selalu merendam aku dibak air saat beliau belum selesai mencuci pakaian dan aktivitas dapur lainnya. Barulah selesai semua, aku dimandikan, dan seperti biasa diajak jalan-jalan. Beruntung, kedua orangtuaku tak perlu repot harus mengajak aku jalan-jalan tiap hari. Tetanggaku selalu berebut minta giliran mengajak jalan-jalan.


Ibuku bercerita, ada orangtua namanya Mbak Gemuk, tinggal di Karang Balik dan tak jauh dari pasar buah yang berada di belakang Toko Makmur sekarang, sangat menyukaiku. Dia sudah meningal dunia, entah tahun kapan, tapi tidak di Tarakan. Kabar terakhir di Jawa. Saking sayangnya sama aku, kepada ibuku almarhumah Mbak Gemuk itu tak henti-hentinya di saat menimang aku selalu berkata, "Nanti kalau tole (aku) sudah besar, bantuin mbak ambil air ya," begitu kata ibuku menirukan kudangan almarhumah mbak Gemuk.


Dia memanggilku Utis. Utis itu kalau dalam bahasa Jawa artinya puntung rokok. Hmmm.... panggilan ini bukan karena bodiku seperti puntung rokok, tapi ada sejarahnya. Suatu ketika, saat aku masih balita sempat mabuk lantaran tanpa diketahui orangtuaku aku memakan puntung rokok. Orangtuaku sempat panik. Tapi setelah melihat di mulutku ada sisa tembakau, langsung dicari penawarnya. Almarhumah bak Gemuk lantas menyarankan diberi minum kopi dan tempe goreng... Benar, sarannya manjur. Sejak itulah dan sampai sekarang aku menyukai sekali tempe goreng.


Tak hanya puntung rokok, uang logam pernah ku makan. Beruntung bapakku segera tahu. Tapi banyak bicara, dia langsung memukul punggungku hingga keluar uang logam itu. Hehehehe.. lucu juga kalau orangtuaku menceritakan masa kecilku. Memang, kata ibu, aku itu termasuk tipe anak yang memiliki rasa keinginannya tinggi. Selain itu, punya banyak akal.

Pernah suatu ketika, almarhumah mbak Gemuk tadi memijatku, entah karena kesakitan, aku langsung menggigit pahanya hingga menyisahkan cacat karena gigitan gigiku. Demikian halnya bapak, suatu ketika saat siang hari, dia asyik tertidur tanpa memakai baju. Aku datang menghampiri dan langsung "menyusui" hingga bengkak dan bapakku terkejut. Bapakku mengaku sakit, tapi mengetahui kecerobohannya, dia hanya tersenyum saat itu.


Hmmm..... ngantuk (sambung lagi tulisannya, Insya Allah)*****



Wednesday, 10 November 2010

SIAP JADI PRESIDEN

Mungkin ini impian? Bagiku tak ada impian karena tak usah bermimpi untuk sesuatu hal yang tidak mungkin. Dulu, saatku berjualan sayur keliling, pikiran-pikiran ini selalu ada. Terlebih saat ku harus memegang "senjata" menumpas buah kelapa sawit yang sudah matang untuk selanjutnya ditimbang, atau membabat habis segala gulma di muka bumi....


Lalu, aku pun terbangun dan sekarang ada di sebuah pulau. Menakjubkan. Impian yang tak pernah hadir dalam mimpi. Aku pun yakin, insya Allah masih ada sesuatu yang menakjubkan. Yang pasti, ini bukan impian, berniat mimpi pun tidak.....



Tarakan, Hari Pahlawan 2010
Atas nama hati nuraniku sendiri



Trisno For RI 1


Mengikuti Study Tour Siswa Berprestasi se-Tarakan (3-Habis)

Usul Film G30 S/PKI Diputar Kembali

Ruang Relik di Gedung Paseban begitu tenang. Rata-rata pengunjung Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta, saat berada di ruangan yang berhadapan dengan ruang teater itu memilih diam sembari mengamati satu per satu objek yang ada di dalamnya.

MENURUT pengakuan sebagian pengunjung ada kesan horor ketika berada di ruangan tersebut. Itu bila dikaitkan dengan beberapa papan petunjuk yang ditemui sebelum menuju Ruang Relik yang terhubung dengan Museum Pengkhianatan PKI (Komunis). Tulisan pada papan petunjuk arah tersebut memberitahukan bahwa di Ruang Replik terdapat pakaian berlumur darah yang dikenakan pahlawan revolusi saat disiksa dan dimasukkan ke dalam sumur tua. Terlebih, pada sebuah figura berbingkai dan berlatar belakang warna hijau di antaranya bertuliskan: pengunjung diharapkan dapat menjaga perasaan khidmat, tidak berteriak-teriak, bercanda, dan berbuat tidak sopan.

“Saya sempat ke ruangan itu, tapi nggak sempat ke ruang teater. Memang agak serem juga sih, soalnya di ruangan itu kita bisa lihat pakaian atau celana yang ada darahnya,” kata Rahma Handayani, siswi SMP 1 Tarakan yang termasuk rombongan studi wisata pendidikan yang diprogramkan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan untuk siswa SLTP dan SLTA berprestasi di Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Aceh Y.F., seorang pramuwidya yang menjadi pemandu rombongan asal Tarakan selama berada di Monumen Pancasila Sakti menerangkan, pakaian dan celana yang terdapat lumuran darah dan tersimpan di Ruang Relik merupakan barang-barang peninggalan para pahlawan revolusi.

“Di ruangan ini terdapat petikan visum (Visum et Repertum) dokter, peluru yang diketemukan dalam tubuh pahlawan revolusi, tali pengikat dan lain-lain,” kata Aceh.

Pria kelahiran Jakarta 3 Mei 1965 memang tidak melihat langsung peristiwa Gerakan 30 September (G30 S/PKI). Namun, ia mendapat banyak informasi dari kedua orangtuanya yang merasakan adanya peristiwa yang kini menuai kontroversi.

“Saya masih bayi merah waktu itu. Tapi, terlepas dari kontroversi yang terjadi sekarang ini, menurut saya, peristiwa ini sangat perlu dikenang agar kejadian ini tak terulang lagi di negeri ini,” kata anak ke-6 dari tujuh bersaudara dari pasangan almarhum Ceplik dan Alus.

Saat berada di Ruang Replik, sejumlah siswa terlihat sibuk memotret satu per satu isi yang ada di ruangan tersebut. Misalnya figura bertuliskan mengenai Visum et Repertum yang ditulis dalam tinta emas, salah satunya tentang jenazah Brigen TNI Donald Isaac Pandjaitan disebutkan bagian alis mata sebelah kanan terdapat luka tembak ukuran 1,5 centimeter x 18 milimeter, tulang tengkorak di bawahnya pecah berkeping-keping.

Pada figura tersebut juga dituliskan hasil visum jenazah mantan Asisten IV Men/Pangad yang pernah mencapat prestasi atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI, yakni di kepala sebelah kanan terdapat luka tembak masuk ukuran 13 x 10 milimeter, menembus tulang tengkorak seluas ujung jari telunjuk, dan bagian atas kepala terdapat luka tembak masuk seluas 4 x 1,5 centimeter, pinggiran luka robek tidak teratur, kepingan tulang tengkorak menonjol ke luar. Kemudian tertulis juga kalau di atas pangkal daun telinga jenazah salah satu pahlawan revolusi itu terdapat luka tembak keluar ukuran 18 x 15 milimeter, dasar tulang tengkorak berlubang seluas 2 x 2,5 centimeter. Di kepala bagian sebelah kiri juga terdapat luka tembak masuk dengan ukuran 1,5 x 1,5 centimeter, dan dari lubang tengkorak ini keluar jaringan otak sudah membubur berwarna merah kelabu.

“Dan di punggung tangan kiri terdapat iris yang berukuran sepanjang 3 centimeter berjalan miring arahnya dari kiri atas kanan bawah. Pada dasarnya terlihat urat-urat yang turut teriris dangkal,” demikian tulisan tinta emas pada figura Visum et Repertum jenazah D.I Pandjaitan itu.

Sebelum ke Ruang Relik, rombongan juga dibawa ke Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) yang diresmikan Presiden RI alm. Soeharto pada 1 Oktober 1992. Di Ruang Intro yang berukuran cukup luas, pengunjung bisa menyaksikan tiga mozaik foto yang masing-masing menggambarkan kekejaman-kekejaman PKI terhadap bangsa sendiri dalam pemberontakan Madun, penggalian jenazah korban keganasan PKI dalam Gerakan 30 September 1965, dan pengadilan gembong-gembong G30 S/PKI oleh Mahkamah Militer Luar Biasa. Lalu, di Ruang Intro tersebut juga terdapat diorama yang menggambarkan peristiwa pengkhianatan PKI, antara lain tertembak matinya S.A. Sofyan pada 12 Januari 1974. Disebutkan pimpinan S.A. Sofyan, sisa-sisa PKI Kalimantan Barat mendirikan PKI gaya baru didukung oleh Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Untuk menghancurkannya, sejak Februari 1969 dilancarkan Operasi Bersih III dan berhasil menghancurkan pendukung PKI gaya baru.

“Pada tanggal 12 Januari 1974, pasukan RPKAD berhasil menemukan tempat persembunyian S.A. Sofyan. Ketika disergap, ia tertembak mati,” terang Aceh Y.F.

Aceh juga sempat membawa rombongan asal Tarakan melihat lebih dekat sumur tua Lubang Buaya. Dia menerangkan, 4 Oktober 1965, di sumur inilah berhasil diangkat jenazah pahlawan revolusi.

“Pertama kali yang berhasil diangkat adalah jenazahnya Lettu Pierre Andries Tendean. Kemudian pengangkatan yang kedua berhasil mengangkat dua jenazah sekaligus, yaitu jenazahnya Mayjen TNI Soeprapto dan Mayjen TNI S. Parman,” sebut Aceh.

Di sela-sela Aceh memberikan keterangan, siswa maupun guru pendamping asal Tarakan ini silih berganti mengajukan pertanyaan. Salah satunya mengenai penghentian pemutaran film G30 S/PKI sejak 1998. Padahal sebelum itu, film besutan sutradara kondang Arifin Chairin Noer selalu ditayangkan tiap 30 September dini hari.

“Kemungkinan bisa saja film tersebut ditayangkan kembali. Silakan ajukan usulan,” kata pria yang kini dianugerahi tiga anak tersebut.

Aceh juga diberondong pertanyaan saat membawa rombongan asal Tarakan melihat lebih dekat eks rumah penyiksaan G30 S/PKI berukuran 8 meter x 15,5 meter, rumah eks pos komando milik seorang penduduk RW 02 Lubang Buaya bernama Haji Sueb, dan rumah eks dapur umum yang statusnya milik Ibu Amroh.

“Rumah yang digunakan untuk penyiksaan pahlawan revolusi itu milik Bambang Harjono. Dia terbukti bagian dari PKI. Kalau Haji Sueb, pedagang sayur dan Ibu Amroh, keduanya hanya masyarakat biasa yang pada saat kejadian mengungsi di tempat lain dan tidak termasuk bagian dari PKI,” kata Aceh lagi.

Usai mengunjungi Monumen Pancasila Sakti yang berada dalam kawasan seluas 9 hektare, rombongan dalam kegiatan 5 hari sejak 28 Oktober tersebut juga mengunjungi Monumen Nasional dan Ancol. Saat di Ancol, beberapa rombongan termasuk Radar Tarakan juga sempat bertemu dengan pelawak yang kini lagi naik daun: Azis Gagap. “Apa kabar Kalimantan? Saya baru saja dari Samarinda,” kata Azis yang saat itu pergi berlibur bersama keluarga.

Rosmini, pimpinan rombongan studi wisata pendidikan mengatakan, sepulang dari kegiatan ini, seluruh siswa yang berjumlah 40 orang ditugasi membuat karya tulis. “Mereka kemudian akan melakukan paparan,” kata Rosmini, pegawai Disdik Tarakan yang ikut dalam kegiatan tersebut.

Sekretaris Disdik Tarakan Ir Edi Susanto MSi berharap, kegiatan ini bisa memacu siswa lainnya untuk terus berprestasi. “Ke depan, tidak menutup kemungkinan kegiatan serupa kami programkan untuk murid SD berprestasi,” ujar pria yang sebelumnya berdinas di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Tarakan.(habis/trisno@radartarakan.com)

Mengikuti Study Tour Siswa Berprestasi se-Tarakan (2)

Di Cikole Disambut Kabut Tebal, di Cisarua Dihadang Macan Tutul

Panorama alam nan indah di Desa Cikole membuat mata lelah menjadi segar. Namun tiba-tiba kembali menjadi redup tatkala pandangan di depan terhalang kabut putih yang lumayan tebal. Belum lagi saat berada di wilayah Cisarua, macan tutul (Panthera pardus) berwajah garang menghadang di tengah jalan membuat perjalanan kali ini cukup menegangkan.

CIKOLE merupakan wilayah pedesaan yang menjadi surga bagi mata. Hijaunya tanaman palawija di sisi kanan dan kiri sepanjang Jalan Raya Tangkuban Perahu, Lembang, merupakan panorama alam yang dapat dilihat di wilayah tertentu saja.

Ya, agenda selanjutnya rombongan pelajar SLTP dan SLTA berprestasi se-Tarakan yang mengikuti studi wisata pendidikan ke Gunung Tangkuban Perahu. Namun sebelum mencapai ke salah satu gunung berapi yang masih aktif dan terus diawasi Direktorat Vulkanologi Indonesia serta memiliki bentuk Stratovulcano, rombongan singgah terlebih dahulu di Grafika Cikole.

Di sini merupakan rest area (tempat istirahat) yang cukup refresentatif karena terletak di jalur wisata Tangkuban Perahu, Air Panas Ciater, Teropong Bintang Lebang, dan Museum Geologi. Selain menikmati santapan makan siang khas Sunda, beberapa pelajar maupun pegawai Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan yang tergabung dalam rombongan studi wisata pendidikan tersebut, juga menikmati permainan flying fox dengan panjang 125 meter, dan kebun strawberry petik sendiri.

Bisa menikmati dua fasilitas tersebut, per orang cukup mengeluarkan isi saku sebesar Rp 30 ribu. Rinciannya, Rp 25 ribu untuk permainan flying fox (pulang dan pergi) sembari menikmati pemandangan rumah desa yang berada di sela-sela pepohonan cemara (Casuarinaceae sp). Selebihnya, untuk tiket masuk kebun strawberry plus menikmati jus dari buah yang kaya pigmen warna antosianin, mengandung antioksidan yang tinggi, serta diyakini mampu mencegah penyakit kanker payudara dan leher rahim.

Walaupun sebenarnya masih ada arena bermain (outbond) lainnya yang tak kalah menarik di kawasan ini seperti jembatan tali dua, jembatan borma, turun tebing (repling), jaring laba-laba, arena berkuda, mini moto ATV, serta permainan terbaru dan lebih menantang "jembatan elvis" dan dilengkapi permainan anak seperti rumah pohon.

“Ayo kita ke Gunung Tangkuban Perahu biar tidak kesorean,” kata seorang pemandu kepada rombongan yang tampak asyik menikmati pemandangan di Grafika Cikole.

Kendaraan yang membawa rombongan langsung menuju Tangkuban Perahu. Gunung yang memiliki ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut tersebut selalu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibu kandungnya, Dayang Sumbi. Namun saat rombongan masuk di pintu pertama langsung disambut kabut putih yang tebal.

“Wah, kalau kabut tebalnya begini, agak sulit kita menyaksikan pemandangan kawah Tangkuban Perahu,” kata Dedi, pengemudi mobil Avanza yang membawa Sekretaris Disdik Tarakan Ir Edi Susanto MSi dan Radar Tarakan yang ikut dalam study tour tersebut.

Hadangan kabut putih juga sedikit menyulitkan pandangan pengemudi menuju ke puncak salah satu kawah. “Tangkuban Perahu ini terdapat terdapat tiga kawah yang sering dikunjungi. Ada Kawah Ratu, Kawah Upas, dan Kawah Domas,” terang salah seorang pemandu kepada wartawan koran ini.

Kawah Domas misalnya, terdapat sumber air panas yang memiliki kandungan belerang dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit, atau dimanfaatkan sumber air panas.

“Kalau untuk merebus telur ayam dengan cara memasukkan telur itu ke dalam genangan air panas selama kurang lebih 10 menit sudah matang,” imbuhnya.

Rombongan tak mengunjungi Kawah Domas dan Kawah Upas, melainkan Kawah Ratu. Semula akibat kabut yang cukup tebal, tak ada pemandangan yang menakjubkan bisa disaksikan pada kawah terbesar di Tangkuban Perahu. Namun karena hujan di sekitar Kota Bandung, perlahan kabut putih itu pun lenyap.

“Wah serem juga ternyata. Kalau tadi kabutnya seperti itu dan tiba-tiba gunung ini meletus, bagaimana kita ini,” kata Ibrahim, guru pendamping SMK 1 Tarakan berseloroh.

Selain ketiga kawah tersebut, di Tangkuban Perahu juga terdapat Kawah Baru, Kawah Lanang, Kawah Ecoma, Kawah Jurig, Kawah Siluman, Kawah Jarian, dan Pangguyangan Badak.

Serunya perjalanan studi wisata pendidikan di Cikole dan Tangkuban Perahu ternyata tak kalah saat rombongan berada di Cisarua, Bogor, esoknya. Selain melewati kawasan Puncak yang terkenal perkebunan tehnya yang luas saat hujan lumayan deras mengguyur bumi, kendaraan yang membawa rombongan sempat berjam-jam terhenti.

“Jalur dari Jakarta ke Puncak macet total, makanya kami siasati dengan membuat satu jalur dengan sistem buka tutup,” kata petugas dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bogor.

Akibat kemacetan sekitar lebih 4 kilometer ini, praktis membuat rombongan tiba di Taman Safari Indonesia, Cisurua, sore hari. Walau demikian, 40 pelajar berprestasi ini sempat menikmati detik demi detik perjalanan yang menegangkan, terutama saat berada di safari park. Di lokasi ini, rombongan langsung menyaksikan ribuan koleksi satwa dari dekat dengan konsep kebun binatang masa kini di mana satwa dilepas seperti di habitat aslinya. Tidak hanya satwa endemik Indonesia, tapi juga satwa langka dunia, hingga serasa melakukan perjalanan di hutan belantara dunia sambil menikmati keindahan panorama alam di lereng Gunung Pangrango. Antara lain ada singa Afrika (Panthera leo), hewan khas tanah Arab: unta atau onta, baik yang berpunuk tunggal (Camelus dromedarius) maupun berpunuk ganda (Camelus bactrianus), beruang madu atau malayan sun bear (Helarctos malayanus), dan si leher panjang Jerapah (Giraffa camelopardalis).

Ssttt....kunci kaca mobil rapat-rapat! Beberapa ekor macam tutul dan harimau putih (Pantera tigris) menghadang rombongan. Salah satunya memiliki tubuh lumayan besar, kira-kira tingginya hampir separo mobil Avanza. Ketegangannya jangan ditanya lagi, karena jarak penumpang yang terdapat di dalam mobil Avanza (termasuk Radar Tarakan) hanya berjarak sekitar satu meter saja dengan macan tutul yang mondar-mandir dan dalam posisi siap menerkam mangsanya. Sangat dekat. “Jangan nyalakan blitz. Khawatirnya nanti macam tutul itu naik di atas mobil,” pinta Dedi, si pengemudi.

Meski dihadang hewan karnivora yang terkenal sangat buas, keamanan tetap terjamin. Asalkan pengunjung mengindahkan aturan pengelola Taman Safari Indonesia, di antaranya tidak membuka kaca mobil kecuali saat berada di kawasan hewan-hewan tertentu, apalagi jangan sampai turun dari mobil. Sangat berbahaya! Selain itu, petugas dengan kendaraan patrolinya yang khas juga mengamati gerak-gerik hewan dan pengunjung. Tulisan bagian terakhir besok tentang penuturan warga sekitar Desa Lubang Buaya yang sempat merasakan betapa tragisnya peristiwa yang hingga kini masih menuai kontroversi: Gerakan 30 September atau G30 S/PKI. Bagaimana ceritanya? (bersambung/trisno@radartarakan.com)

Mengikuti Studi Tour Siswa Berprestasi se-Tarakan (1)

Kunjungi Sekolahnya Andhika The Titans, Kagumi Dalagita

Eks bangunan Urfese Larage School di Jl. Sumatera masih terlihat megah. Sehari setelah peringatan Hari Sumpah Pemuda, 40 siswa berprestasi se-Kota Tarakan mengunjungi bangunan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda tersebut. Apa saja kegiatan mereka?

JUMAT pagi (29/10), lalu lintas di pusat kota Bandung terlihat ramai sekali. Terutama di Jl. Sumatera, badan jalannya yang tak terlalu lebar, sedikit merepotkan bus yang mengangkut rombongan studi wisata pendidikan siswa SLTP dan SLTA berprestasi se-Tarakan yang dikoordinir Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan menuju ke bangunan yang dindingnya dipoles cat hijau muda.

“Pagi ini kita ke SMP Negeri 2 Bandung, salah satu sekolah unggulan di Bandung,” kata Sekretaris Disdik Tarakan Ir Edi Susanto MSi yang ikut dalam rombongan study tour.

Tiba di pelataran sekolah, guru dan siswa SMP 2 Bandung yang mengenakan pakaian seragam biru-biru menyambut kehadiran tamunya dengan ramah. Lalu, rombongan diarahkan menuju ke gedung olahraga yang telah direnovasi dan diresmikan 1 Maret 2007.

“Bangunan sekolah kami memang sangat sederhana. Terutama bagian depan, konstruksinya tetap dipertahankan. Walau demikian, dari sekolah ini sudah banyak alumni-alumninya yang jadi orang ternama. Ada yang jadi pejabat seperti Pak Agum Gumelar. Kalau penyanyi malah nggak terhitung lagi,” kata Delis, guru bahasa Inggris di sekolah itu kepada Radar Tarakan yang ikut dalam rombongan.

Sederet alumni SMP 2 Bandung yang menjadi selebriti di antaranya Tri Utami, Rachel Maryam yang sekarang menjadi anggota DPR RI, mantan personel Peterpan yang sekarang bergabung di The Titans: Andhika, dan almarhum Harry Roesli.

“Ini (SMP 2 Bandung) juga sekolahnya Andhika The Titans. Dia termasuk artis yang sering mengunjungi sekolah ini, selagi ada kegiatan di Bandung. Kalau almarhum Kang Harry Roesli, beliaulah yang menciptakan hymne SMP 2 Bandung,” terang Delis lagi.

Dalam waktu yang bersamaan, terdengar kelompok musik angklung membawakan lagu-lagu mancanegara. Rombongan dari Tarakan mengungkapkan kekagumannya lewat tepuk tangan. Bahkan, para siswa yang terpilih mengikuti studi wisata pendidikan karena berprestasi di bidang akademik dan non akademik itu tak melewatkan momen tersebut dengan mengabadikannya melalui kamera digital, kamera ponsel, dan handycame. Beberapa guru pendamping juga tak mau ketinggalan.

“Mereka kompak sekali. Penampilannya sangat bagus,” kata Abdullah, guru SMA 3 Tarakan sembari mengarahkan handycame-nya ke arah panggung.

Usai penampilan kelompok musik angklung, dilanjut penampilan vokal grup terdiri lima siswa SMP 2 Bandung. Kali ini, penampilan mereka yang menamakan vokal grup Dalagita benar-benar mencuri perhatian rombongan Tarakan. Terlebih saat Fauzia Irva Lestari menjelaskan bahwa mereka pernah meraih juara pada even nasional di Festival Lomba Seni Siswa 2010, dan even internasional pada World Choir Games di Tiongkok, Juli 2010.

“Dalagita ini terbentuk 2 tahun lalu. Nama Dalagita memiliki arti gadis remaja dalam bahasa Filipina,” kata Fauzia Irva Lestari sembari memperkenalkan personel Dalagita lainnya yakni Anya, Matia, Nanda, dan Aulia.

Dalagita juga sedang mengikuti kompetisi yang diselenggarakan salah satu stasiun televisi nasional. “Mohon dukungan dengan mengirim SMS sebanyak-banyaknya,” pinta remaja berwajah ayu tersebut.

Sebagai informasi, sejarah SMP 2 Bandung dimulai sekitar tahun 1948 dengan nama Indofuropese Vereneging Kubbk School. Sekolah ini semula berlokasi di Jl. Kalipah Apo, kemudian pindah ke Jl. Kasatriaan, Jl. Papandayan, dan Jl. Babatan. Setelah ke Jl. Sumatera no. 42 pada tahun 1950, berubah nama menjadi SMP 2 Bandung, menempati bangunan bekas sekolah Belanda yang dibangun pada tahun 1913 oleh pemerintah Hindia Belanda dan diambil alih oleh pemerintah Indonesia hingga sekarang.

Dikenal sebagai sekolah unggulan, karena pelajar SMP 2 Bandung kerap meraih prestasi di banyak kompetisi. Mulai even di tingkat regional, nasional hingga internasional. Tak hanya seni, tapi juga olahraga dan bidang ekstrakurikuler lainnya. Lantas apa yang dilakukan pihak sekolah hingga melahirkan siswa-siswa berprestasi?

Pertama diawali mulai dari penerimaan siswa baru. Ada seleksi melalui jalur non-akademis yang dilakukan saat pendaftaran.

“Jalur non-akademis terdiri atas jalur bakat prestasi dan peserta didik tidak mampu,” kata Kepala SMP 2 Bandung Tata Kusnadi MPd kepada Radar Tarakan.

Dia menjelaskan, calon peserta didik yang akan mendaftar melalui jalur bakat prestasi adalah mereka yang mempunyai bakat dan prestasi istimewa dalam bidang intelektual, estetika dan olahraga yang dibuktikan dengan piagam, sertifikat, medali atau piala yang pernah diraihnya.

“Kalau calon peserta didik tidak mampu adalah mereka yang kondisi sosial ekonomi orangtuanya dikategorikan tidak mampu atau miskin sehingga tidak mempunyai kemampuan untuk membayar biaya pendidikan anaknya dengan dibuktikan oleh Surat Keterangan Tidak Mampu dari kecamatan dan SD asal,” terangnya.

Saat pemasukan berkas pendaftaran, pihak sekolah menerapkan map yang berbeda. Misalnya saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2010, bagi calon peserta didik yang memiliki bakat prestasi di bidang olahraga menggunakan map biru, berprestasi di bidang kesenian dengan map kuning, map hijau untuk kreatifitas dan bina prestasi.

“Untuk KKSA (Kartu Kendali Siswa Anak) yang diperuntukkan bagi siswa dari keluarga tidak mampu menggunakan map merah,” jelas Tata Kusnadi.

Pola semacam ini, lanjut dia, memudahkan pihak sekolah dan terutama guru untuk mengetahui potensi yang dimiliki siswanya. Mereka yang berbakat di bidang olahraga, secara intensif terus dibina agar membuahkan prestasi. Demikian pula untuk bidang-bidang lainnya.

“Rutin tiap minggu, kami ada jadwal pembinaan ekstrakurikuler. Dilakukan setelah proses kegiatan belajar mengajar selesai,” imbuhnya.

Dimas Riyanto, siswa kelas 7, misalnya. Dia memilih kegiatan ekskul bahasa Jepang. Kegiatannya dilaksanakan tiap Jumat. Pengajarnya didatangkan dari Jepang. “Namanya mister Kenta,” sebut siswa yang berdomisili di Kota Cimahi, Jawa Barat.

Menurut Dimas, bisa bersekolah di SMP 2 Bandung menjadi kebanggaan tersendiri. Sama halnya dengan sekolah lainnya, sekolah ini juga memiliki guru Bimbingan Konseling (BK) yang senantiasa memantau perkembangan siswanya. Jika ada siswa yang “bermasalah”, maka guru BK yang langsung turun tangan. Tidak langsung menghukum, tapi mencari akar permasalahan yang dihadapi siswa itu. “Kami bisa curhat tentang apapun sama guru BK. Beliau orangnya sangat baik,” kata Dimas lagi.

Coret-coretan terutama yang lazim dilaksanakan pasca pengumuman kelulusan siswa juga tak dilarang. Eitsss...., tapi jangan salah persepsi dulu? “Coret-coretan memang tidak dilarang di sekolah kami, tapi ada tempat khusus,” kata Henisa, salah satu siswi di sekolah.

Sebuah triplek melamin warna putih dipasang di dinding sebuah bangunan yang letaknya di depan toilet. Di tempat inilah menjadi media bagi siswa-siswi untuk coret-coretan.

“Hanya di tempat itu, kalau di tempat lain tidak boleh. Sekolah kami sangat disiplin, itu yang menjadi kebanggaan saya bisa bersekolah di sini,” ujar Dimas Riyanto.

Hal lainnya yang menjadi kekaguman rombongan dari Tarakan, khususnya guru pendamping, adalah budaya cium tangan setiap siswa bertemu dengan guru. Dimanapun mereka bertemu dengan gurunya! Sehingga bukan tidak mungkin, ridho guru menjadi salah satu modal utama bagi siswa untuk melahirkan banyak prestasi.

“Ini tidak hanya di SMP 2 Bandung saja, tapi saat saya berkunjung ke SMK juga demikian. Setiap siswa bertemu gurunya, mereka selalu cium tangan. Ini sangat jarang sekali ditemui di Tarakan,” kata Ibrahim, guru pendamping asal SMK 1 Tarakan.(bersambung/trisno@radartarakan.com)

ASSALAMUALAIKUM WR WB

Lama ku tak memposting blog ini. Hanya satu penyebabnya: lupa pasword. Walau akhirnya teringat kembali.

Saturday, 7 March 2009

CINTA: DUKA SUKA ATAU SUKA DUKA


Cinta bukanlah sebuah misteri
Tapi...terkadang dia bisa digambarkan sebagai sosok yang menakutkan
Menyeramkan...
Membuat trauma bagi semua orang
Dan, mungkin orang itu salah satunya aku


Cinta juga bikin orang tergila-gila
Melupakan pentingnya berpikir secara logika
Yang ada...
Ketika cinta menghampiri, bagaimana membuat si dia bahagia

Cinta, lima huruf yang tak boleh terpisah
Mengandung sejuta makna
Menyimpan banyak duka suka atau suka duka

Andai cinta itu bisa berbicara
Dia pasti akan mengungkapkan fakta
Kalau dia itu tak ubahnya seperti celana dalam
Banyak menyimpan noda
Tapi...selalu cepat dibersihkan penggunanya

Tapi cintaku hanya satu
Tak bisa tergantikan walau hingga langit akan runtuh
Kecuali berganti waktu
Yang satu itu berganti cinta


by: Yudittia

Thursday, 5 March 2009

APAKAH AKU MENCINTAI DIA?


“Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada orang lain” (Al-Hadist)

Did I Marry The Right Person?

Cerita di bawah ini sangat bagus, bagi yang masih single maupun yang sudah menikah. Bagi mereka yang masih single bisa mengambil pelajaran dari cerita ini, dan bagi yang sudah menikah cerita ini bisa jadi guideline untuk meningkatkan ikatan pernikahan yang udah dijalani.

“Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?”

Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, “Bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat?” Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya jadi saya menjawab “Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?” Dengan sangat serius dia balik bertanya “Bagaimana anda tahu?!”

“Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini.” Inilah jawabannya… SETIAP ikatan memiliki siklus.Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda. Telpon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit. Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Nggak perlu berbuat apapun.. Makanya dikatakan “jatuh” cinta…

Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan “aku mabuk cinta”. Bayangkan ekspresi tersebut! Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda. Jatuh cinta itu mudah. Sesuatu yang pasif dan spontan. Tapi…setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar. Perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan. Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya nggak selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang besemangat bukannya jadi hal yang manis tapi malah nambahin penat yang ada.

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu. Namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.

Dan pada situasi inilah pertanyaan “Did I marry the right person?” mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya.. Nah Lho! Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cinta yang pernah terjadi, anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia cinta itu dengan orang lain. Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas.

Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan di luar. Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini, mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TV hingga merasa bosan, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.

Tapi tahu tidak?! Bahwa jawaban atas dilema ini tidak ada di luar, justru jawaban ini hanya ada di dalam pernikahan itu sendiri. Mencari pelarian?? Silahkan. Anda bisa! Bisa saja ataupun boleh saja anda mencari pelarian. Mungkin pada saat itu anda akan merasa lebih baik. Tapi itu bersifat temporer, karena setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda). Karena (pahamilah dengan seksama hal ini)
KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN, DAN TERUS MENERUS..!

Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan.
Cinta TIDAK AKAN PERNAH begitu saja terjadi. Kita tidak akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya, tapi kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.

Benar juga ungkapan “diperbudak cinta” Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi. Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK. Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga berjalan dengan baik. Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini. Cinta bukanlah MISTERI.

Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar. Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu físika (seperti gaya Gravitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya. Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat. Beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat. Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa “MEMBUAT” cinta bukan “JATUH”. Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION, dan bukan cuma PERASAAN …!

”Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna “.

Sunday, 1 February 2009

EINSTEIN MEMBANTAH INJIL DAN TAURAT


Albert Einstein adalah salah satu sosok pemikir yang sangat dikagumi sekaligus sangat dibenci di pengujung abad 20 dan bahkan hingga kini. Kenapa demikian? Karena selain penemuan-penemuan spektakulernya di bidang sains dan teknonogi yang sulit ditandingi oleh para ilmuan pada masanya, Einstein kerap melancarkan kritik pedas pada gereja dan doktrin-doktrinnya yang dianggap tidak rasional. Menurut Einstein, gereja telah melakukan ''pembodohan massal'' dengan konsep ketuhanan yang tidak masuk akal.

Kritik yang disampaikan Einstein tersebut sebenarnya berangkat dari kegelisahannya ihwal eksistensi Tuhan yang tak kunjung ditemukan. Ia tidak puas dengan sosok Tuhan yang dipersonalkan atau digambarkan mirip manusia (antropomorfisme) dalam Kitab Injil. Selain itu, ia juga mengkritik filsafat ketuhanan yang dikembangkan oleh gereja yang terkenal dengan istilah Trinitas: Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Sampai akhir hayatnya, Einstein belum menemukan jawaban yang rasional terkait dengan filsafat ketuhanan tersebut. 

Dalam logika Einstein yang mendasarkan pikirannya pada fisika dan matematika, Tuhan yang dipersonalkan jelas tidak masuk akal. Karena itu, dengan tegas ia menolak: ''Tentang Tuhan saya tidak dapat menerima suatu konsep apa pun yang berdasarkan otoritas gereja. Sepanjang yang saya ingat, saya membenci indoktrinasi massal. Saya tidak mengimani karena takut akan kehidupan, takut akan kematian, maupun iman yang buta...'' (hal. 153).

Pernyataan Einstein tersebut tak pelak membuat panas telinga para pemuka agama Nasrani. Ia dianggap mengingkari Al-Kitab yang seharusnya diimani tanpa harus diperdebatkan lagi. Einstein memang cukup berani membongkar sekian ayat yang terdapat dalam kitab Injil yang tidak sesuai dengan nalar logikanya. Ia sama sekali tidak mengimani Injil sebagai sabda Tuhan karena sepanjang penelitiannya terdapat pertentangan antara Injil yang satu dengan lainnya. Dalam Injil Yohanes, misalnya, Eisntein melihat ada pertentangan ayat yang sangat mendasar dengan Injil Barnabas (The Gospel of Barnabas) yang naskah aslinya ditemukan di The Emperial Library Wina, Austria. Atas dasar inilah Einstein semakin tidak yakin akan kebenaran Injil. Apalagi fakta sejarah menunjukkan bahwa ketika Paus St. Glasius I bertahta pada 492-496, Vatikan secara resmi melarang Injil Barnabas beredar dan dibaca oleh umat Kristiani. 

Einstein menilai keputusan tersebut sangat paradoks dan sulit diterima oleh akal sehat. Sehingga dengan lantang ia menuduh Paus telah melakukan campur tangan dalam penulisan Injil. 

Kritik pedas inilah yang membuat vatikan kegerahan. Einstein dianggap terlalu berlebihan dan mengada-ada. Pihak gereja kemudian bergerak lebih cepat untuk menyikapi apa yang telah dikemukakan pemikir yang berpengaruh itu agar tidak mereduksi keimanan umat Kristiani di seluruh dunia. 

Seorang pemuka Nasrani yang berasal dari Lutheran Church of Our Savior, yakni pendeta Carl F. Weldman menanggapi dengan keras pendapat Einstein yang menolak Tuhan dipersonalkan: ''Tidak ada Tuhan selain Tuhan personal! Einstein tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya. Dia salah total!'' (hal. 165). Dalam pandangan Carl F. Weldman, pernyataan Einstein bukanlah termasuk bagian dari pencarian hakiki akan eksistensiNya. Akan tetapi hanyalah sebentuk provokasi yang tidak didasari oleh iman yang kuat. 

Sri Paus Yohanes Paulus II yang bertahta di Vatikan juga ikut menyerang Einstein: ''Menginginkan bukti-bukti ilmiah tentang Tuhan sama dengan merendahkan Tuhan ke derajad wujud-wujud dunia kita dan karenanya kita akan keliru secara metodologis berkenaan dengan apa itu Tuhan. Sains harus mengakui batas-batasnya serta ketidakmampuannya untuk mencapai eksistensi Tuhan, ia tidak bisa mengukuhkan ataupun mengingkari eksistensiNya...'' (hal.169). 

Semua umat Kristiani yang menerima filsafat ketuhanan dengan modal iman jelas menganggap Einstein sebagai pengingkar (kafir). Ilmuan peraih nobel yang pada akhir hayatnya kedua bola matanya dijugil untuk diawetkan itu dituduh atheis karena logika berpikirnya tidak sejalan dengan Al-Kitab. 

Tuduhan yang sama sebenarnya juga dilancarkan oleh para pemuka agama Yahudi yang menganggap Einstein anti-Tuhan karena telah berani menolak untuk menjalani bar mitzvah, yaitu upacara untuk menjadi komunitas orang Yahudi. Sebagaimana diulas oleh Wisnu Arya Wardhana dalam buku ini, sejak kecil Einstein memang hidup dengan ''dua agama'': Yahudi dan Katholik. Jika pada pagi hari ia belajar agama Katholik di Katholik Petersschule, sedangkan sorenya ia menerima pelajaran agama Yahudi dari Alexander Moszkowski, guru privat yang sengaja didatangkan oleh orang tuanya (hal.45). 

Dengan demikian, Einstein sudah mempelajari dengan cukup cermat isi Kitab Talmud (Taurat) dan isi Al-Kitab (Injil) sejak ia masih kecil, yakni saat masih berumur tujuh tahun. Walaupun pada saat itu ia belum berani melakukan koreksi terkait beberapa ayat yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya. 

Hidup dengan dua agama bukanlah sesuatu yang aneh bagi Einstein. Ia belajar agama Yahudi karena termasuk agama leluhurnya, sedangkan pelajaran Katholik ia dalami tak lain karena pencariannya akan eksistensi Tuhan. Namun sepanjang yang dipelajari Einstein dari kedua Kitab Suci tersebut, yakni Taurat dan Injil, sosok Tuhan yang sesuai dengan jalan pikirannya tak juga ditemukan. (*) 

A. Yusrianto Elga, tim penulis Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia: 1908-2008 

Judul Buku : Einstein Membantah Taurat & Injil 

Penulis : Wisnu Arya Wardhana

Penerbit : Pustaka Pelajar, Jogjakarta

Cetakan : 1, 2008

Tebal : xxxiv + 258 Halama

Monday, 26 January 2009

CATATAN PEMALANG


TRISNO/RADAR TARAKAN
DI KAKI GUNUNG SLAMET: Meski berada di selokan, air ini layak minum. Beberapa rombongan dari Tarakan sempat meminumnya. Tampak luapan air dari Telaga Gede. 

= Bersama GTZ “Berguru” ke PDAM Tirta Mulia Pemalang (4-Habis)
“Kapan Lagi Minum Air Selokan Kalau Bukan di Pemalang”

Pengalaman yang cukup mengasyikkan saat studi banding bersama GTZ (Gesellerschaft fuer Techische Zusammenarbeit)– lembaga pemberi bantuan teknis asal Jerman, adalah saat berkunjung ke Telaga Gede. Salah satunya kesempatan menikmati air tanpa dimasak terlebih dahulu yang berada di got (selokan). Berikut catatan Radar Tarakan yang ikut kegiatan tersebut:

SUTRISNO WAHYUDI

PERJALANAN menuju Telaga Gede teramat mengasyikkan. Lelah, pikiran kalut terobati dengan panorama alam nan indah di kanan kiri jalan yang dilalui. Seperti hamparan tanaman padi (Oryza sativa) di petak-petak sawah yang luas, tanaman jagung (Zea mays L) yang sudah memasuki masa panen, dan rindangnya hutan jati (Tectona grandis).
Bukan itu saja, pemandangan yang cukup menyita rombongan adalah tumpukan buah durian (Durio zibethinus) yang dijajakan warga setempat. 
”Habis dari Telaga Gede nanti kita cari duren (buah durian) di daerah Warungpring. Ya...sebelum makan siang. Pokoknya nanti makan duren sepuasnya di rumah pengumpulnya, karena kebetulan dia kolega kami juga,” ajak Ponco Adi Suseno, Kasubag Pelayanan Pelanggan, Pemasaran dan Humas PDAM Tirta Mulia Pemalang sembari menyetir kendaraan yang membawa rombongan dari Tarakan menuju Telaga Gede.
Ajakan ini langsung diiyakan. Terlebih pelaksana harian (Plh) Direktur Utama PDAM Tarakan Nuch. Galeba mengaku punya niatan sebelum rombongan bertolak ke Jakarta dan kembali ke Tarakan bisa terlebih dahulu mencicipi durian khas Pemalang. 
Dari Kota Pemalang menuju Telaga Gede yang merupakan salah satu sumber air baku yang dikelola PDAM Tirta Mulia butuh waktu perjalanan sekitar 1 jam. Kira-kira 45 menit di tengah perjalanan, terlihat pemandangan indah Gunung Slamet. Di kaki gunung itulah muncul mata air, baik yang dimanfaatkan sendiri oleh warga sekitar maupun PDAM Tirta Mulia yang salah satunya dinamakan Telaga Gede.
“Sumber air baku dari mata air Telaga Gede ini untuk cakupan pelayanan air bersih di wilayah Kota Pemalang dan sekitarnya. Tahun ini kami juga merencanakan untuk mengelolanya menjadi air siap minum yang tahap awalnya untuk mensuplai kebutuhan Pemkab Pemalang,” kata Kabag Hubungan Pelanggan Ronius D.H kepada Radar Tarakan.
Dijelaskan, jarak Telaga Gede ke daerah pelayanan sekitar 35 kilometer. Kapasitas terpasang sekarang 140 liter perdetik, sedangkan kapasitas terpakai baru 110 liter perdetik. Sementara itu, potensi air bersih dari Telaga Gede cukup banyak. Debit sumber mencapai 1.200 liter perdetik.
“Jadi sangat melimpah, sampai-sampai karena jaringan yang terpasang di sana tidak mampu menampung, air yang keluar dari sumber mata air Telaga Gede meluber mengaliri sawah warga dan ke sungai Comel,” terangnya.
Ronius mengatakan, untuk melestarikan sumber air baku di Telaga Gede berbagai upaya dilakukan pihaknya. Mulai dari membebaskan lahan warga di sekitar Telaga Gede maupun menjaga daerah tangkapan air (catchment area) agar tidak gersang. Untuk menjaga catchment area, salah satu upaya yang dilakukan PDAM Tirta Mulia berkoordinasi dengan instansi terkait agar wilayah itu ditanami pepohonan yang mampu menjaga kelembaban tanah.
“Kalau pohon jati tidak cocok karena kalau kemarau daunnya rontok sehingga ini bisa mempengaruhi kelembaban tanah yang ada di catchment area,” jelas Ronius.
Guna menjaga kelestarian catchment area dimaksud, ia mengaku juga menggandeng tokoh masyarakat, pemuka agama yang berdomisili di daerah tersebut agar semua pihak merasa memiliki bersama. 
“Alhamdulillah mereka paham setelah kami beri penjelasan bahwa keberadaan sumber air baku mampu menghidupi untuk saat ini sekitar 13 ribu pelanggan PDAM yang berada di Kota Pemalang maupun sekitarnya,” lanjutnya.
Sebagai informasi, Telaga Gede selain berada di kaki Gunung Slamet --- gunung yang memiliki ketinggian 3.432 meter dan berada di perbatasan Pemalang dan Banyumas, masuk wilayah Dukuh Sodong, Desa Pekasur, Kecamatan Belik.
Sumber air baku lainnya yang dikelola PDAM Tirta Mulia: sumur dalam Karangasem (cakupan wilayah pelayanan Karangasem), mata air Kemiri (cakupan wilayah pelayanan daerah Randudongkal), mata air Bulakan (cakupan wilayah pelayanan daerah Moga), mata air Cipete (cakupan wilayah pelayanan daerah Warungpring), mata air Cipanas (cakupan wilayah pelayanan daerah Pulosari) dan sumur dalam Lenggerong (cakupan wilayah pelayanan daerah Pemalang). 
Tiba di Telaga Gede, rombongan disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan alam yang tidak bisa ditemui di Tarakan.
“Subhanallah...seandainya Tarakan diberikan air yang melimpah seperti ini kita tak perlu memikirkan bagaimana mencari pasokan air baku,” kata Direktur Teknik PDAM Tarakan Agus Adnan yang ikut dalam studi banding itu ketika melihat jernih air yang mengalir menuju sungai Comel dan persawahan milik warga Desa Pekasur dari Telaga Gede.
Kepada rombongan, Ronius mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dinas Kesehatan air yang berada dari mata air Telaga Gede meraih poin di atas 9. Maksudnya, air tersebut benar-benar layak dijadikan air siap minum.
“Air mineral dari merek terkenal saja poinnya hanya berkisar antara 7 hingga 8. Kalau mendekati 10, wah air ini benar-benar layak dijadikan air siap minum,” kata Agus Adnan lagi.
Rombongan langsung mendekati sumber mata air. Di sana terdapat tempat penampungan yang telah tersambungkan dengan pipa distribusi berukuran besar. Suara gemuruh air yang terdengar dari dalam tempat penampungan itu menandakan air benar-benar melimpah.
Selain bertanya-bertanya kepada petugas PDAM Tirta Mulia yang mendampingi rombongan dari Tarakan mengunjungi Telaga Gede, beberapa di antaranya (termasuk penulis) langsung terjun tanpa alas kaki ke kolam yang dasarnya berupa tumpukan bebatuan dari gunung itu. Sejuknya air Telaga Gede terasa hingga merasuk ke tulang kaki. ”Kalau mau minum airnya yang dekat sumber,” kata Ponco.
Di dekat sumber yang telah ditutup dengan beton dan telah dimodifikasi itu menuju tempat penampungan air terdapat selokan.
”Kalau mau minum airnya yang di got (selokan), Insya Allah bersih karena melalui beberapa penyaringan,” kata Agus Adnan sembari mengumpulkan air yang mengalir di selokan dengan kedua telapak tangannya, kemudian meminumnya.
“Wah, kayaknya ini baru pertama kalinya saya minum air got. Kalau di Tarakan ’kan tidak mungkin,” celetuk Gatot Subagio, Kasi Prasarana Lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Tarakan yang juga ikut studi banding ke Pemalang.
Tanpa ragu, penulis juga merasakan air got itu. Hmmm....sejuk, benar-benar sejuk. Sangat berbeda rasanya ketika minum air mineral yang banyak dijual di pasar, bahkan merek terkenal sekalipun, atau air bersih yang sudah dimasak olahan PDAM Tarakan.
Dirut PDAM Tarakan Nuch. Galeba langsung membandingkan air Telaga Gede dengan air mineral yang dibawa rombongan dari tempat penginapan. Cara membandingkan, satu eks gelas plastik mineral diisi air dari Telaga Gede, satunya lagi air mineral yang masih berada di wadahnya. Keduanya menggunakan gelas plastik transparan. ”Air yang dari Telaga Gede benar-benar jernih,” kata Nuch.
Radar Tarakan, Dirtek Agus Adnan dan stafnya Purwono (Kabag Hubla) juga tak mau melewatkan melihat dari dekat tempat penampungan mata air Telaga Gede lainnya. Bedanya untuk mencapai ke sana harus mendaki terlebih dahulu karena lokasinya berada di atas. Sembari memegang pipa yang tersambung di tempat penampungan itu, penulis dan dua pegawai PDAM Tarakan itu mendaki jalan setapak yang lumayan terjal dan cukup licin.
”Subhanallah pemandangan di sini sangat indah,” ucap Agus ketika sampai di atas. Kami pun tak mau melewatkan momen ini dengan berfoto bersama.
Untuk diketahui, di lokasi ini juga terdapat segerumpulan pepohonan mulai dari yang baru tumbuh hingga berukuran besar dan tinggi. Namun, kami tak berani melewati di antara pepohonan itu karena informasi dari petugas PDAM Tirta Mulia yang menjaga Telaga Gede, ada tanaman yang di balik helaian daunnya terdapat racun dan bila terkena kulit berbahaya.
Pengalaman mengunjungi Telaga Gede masih menjadi pembicaraan hangat ketika rombongan dalam perjalanan menuju ke Jakarta dengan menumpang kereta api dari Stasiun Tegal.
Agus mengungkapkan, dari kegiatan tersebut ada masukan yang rencananya diterapkan di PDAM Tarakan. Salah satunya terkait pelayanan kepada pelanggan, seperti memberikan doorprize yang diundi tiap bulannya bagi pelanggan yang membayar tagihan air sebelum tanggal 10. 
“Kalau penerapan billing system, PDAM Tarakan jauh lebih baik daripada PDAM Tirta Mulia,” katanya.(***) 

Sunday, 25 January 2009

CATATAN DARI PEMALANG


= Bersama GTZ “Berguru” ke PDAM Tirta Mulia Pemalang (3)
Tidak Mau Terbuka Karena Takut Ketahuan ”Boroknya” Berbahaya

Pelayanan prima terhadap pelanggan menjadi salah satu prioritas utama bagi jajaran manajemen PDAM Tirta Mulia Pemalang. Konsep pelanggan adalah bagian dari keluarga menarik untuk diterapkan. Seperti apa konsepnya?

SUTRISNO WAHYUDI

KEBIJAKAN kenaikan tarif sangat tidak mengenakan bagi instansi mana pun, terutama yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat banyak. Termasuk soal tarif dasar air (TDA). PDAM Tirta Mulia sejak per-Januari 2009 menerapkan TDA baru. Angkanya melampaui TDA yang diberlakukan PDAM Tarakan saat ini.
Sebelumnya TDA di Pemalang sebesar Rp 1.290 per meter kubik. Angka ini sebenarnya terbilang tinggi, jika dikaitkan dengan tingkat kemahalan dan harga-harga barang khususnya sembako di daerah tersebut yang tidak terlalu tinggi. Tapi malahan tahun ini PDAM Tirta Mulia menaikkan menjadi Rp 1.520. Sedangkan di Tarakan, TDA ”hanya” Rp1.350 per meter kubik.
“Tapi Alhamdulillah, masyarakat kami dapat memahami kebijakan penyesuaian tarif PDAM. Ini tak lain karena buah keberhasilan kami dengan menggandeng stakeholder lainnya dalam melakukan sosialisasi,” kata Ponco Adi Suseno, Kasubag Pelayanan Pelanggan, Pemasaran dan Humas PDAM Tirta Mulia.
Ponco menyampaikan, sosialisasi yang mereka lakukan tidak sekadar formalitas. Mereka menggunakan pola pendekatan emosional. Mendatangi pelanggan PDAM dari dusun ke dusun melalui kelompok terkecil masyarakat.
“Seperti kelompok-kelompok pengajian dan arisan, kami bergabung di dalamnya. Itu kami lakukan bukan hanya pas mau ada kebijakan menyesuaikan TDA,” terangnya.
Kepala Bagian Hubungan Pelanggan (Hubla) Ronius D.H. juga menyampaikan informasi yang sama. Bahkan menurut dia, jajaran manajemen maupun segenap pegawai PDAM menempatkan pelanggan merupakan bagian dari keluarga mereka. 
”Jadi pendekatan yang kami lakukan benar-benar pendekatan kekeluargaan. Di samping itu, seperti yang disampaikan pak direktur (PDAM) memang harus ada trik khusus untuk melakukan pendekatan dengan berbagai kalangan, termasuk dengan pelanggan. Contoh sederhananya kalau berbicara dengan wanita sentuhlah hatinya. Sebaliknya dengan laki-laki lakukan dengan menggunakan logika-logika,” kata Ronius.
Melalui pola semacam ini, dia mengklaim, sangat efektif bagi PDAM untuk menyampaikan program dan kebijakannya. Bagi pelanggan, juga tidak segan untuk menyampaikan uneg-unegnya dengan cara santun. ”Jadi benar-benar terjadi hubungan simbiosis mutualisme,” tandasnya.
Dalam perjalanan sepulang dari PDAM Cabang Warungpring menuju Pondok Lesehan Tenda Biru untuk makan siang bersama yang berada di tengah bentangan kebun tebu dan sawah yang ditumbuhi padi nan hijau, Ronius juga mengutarakan beberapa program untuk pelanggan yang saat ini diterapkan PDAM Tirta Mulia.
Seperti pembayaran tagihan air, pihak PDAM menyiapkan doorprize yang diundi tiap bulannya untuk 20 pelanggan yang membayar sebelum tanggal 10.
”Nilai hadiahnya memang tidak terlalu mahal, berupa peralatan dapur. Tapi kami memperlakukannya secara istimewa. Jadi setelah diundi, kami langsung datangi pelanggan yang beruntung untuk memberikan hadiahnya yang tak jarang mereka tidak menyangka bakal meraihnya,” terangnya.
Dikatakan, program ini dilakukan selain membiasakan warga membayar tepat waktu, juga untuk menghindari penumpukan pelanggan di loket pembayaran tagihan air yang kerap terjadi menjelang deadline (tanggal 20).
”Karena kalau loket pembayaran berjubel pelanggan yang akan membayar tagihan air, membuat kondisi ruang tunggu yang telah disiapkan terasa panas dan kurang nyaman. Nah melalui program ini hal-hal tersebut kami hindari,” jelas Ronius.
Konsep menyampaikan keluhan terhadap pelayanan, pelanggan dapat hadiah juga diterapkan PDAM Tirta Mulia. Ia menerangkan, meski perusahaannya menerapkan kebijakan setiap tanggapan 1 x 24 jam harus ditindaklanjuti, tetap saja pada hal-hal tertentu sulit diwujudkan. Walaupun itu lebih sekali dilaporkan. Kondisi ini diakui Ronius memang jarang tapi tetap saja terjadi, misalnya ketika banyak gangguan yang harus ditangani. Kondisi ini tak jarang menyebabkan pelanggan kesal.
”Kami memberikan hadiah bukan semata-mata lepas tanggung jawab. Tapi itulah bagian dari apresiasi kami atas kepedulian pelanggan terhadap PDAM. Kalau mereka tidak melapor, mungkin kami tidak tahu apa yang menjadi keluhan mereka,” terangnya. 
”Jadi melalui pola semacam ini merupakan bentuk bahwa pelanggan bagian terpenting bagi PDAM. Tanpa pelanggan perusahaan ini tidak ada apa-apanya,” lanjut Ronius menuturkan.
Transparansi soal keuangan juga diterapkan PDAM Tirta Mulia. Tiap tahunnya, lewat media lokal (termasuk Radar Tegal, grup Jawa Pos) mereka mengumumkan neraca keuangan. 
”Apa yang kami lakukan ini awalnya sempat ditentang. Tapi kami karena sudah komitmen untuk transparan dan memahami tujuan yang kami lakukan, Alhamdulillah upaya transparansi ini justru didukung banyak kalangan, termasuk dari pemda maupun DPRD,” kata Ronius.
Ia menandaskan, transparansi ini termasuk salah satu upaya menghindari penyimpangan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada PDAM. 
”Tak perlu ada yang ditutup-tutupi. Kalau tak mau terbuka karena takut ketahuan ”boroknya”, itu yang berbahaya. Justru dengan keterbukaan kita tahu di mana letak kelemahan dan kekurangan yang harus diperbaiki demi perbaikan ke depannya,” tegas Ronius.
Seperti tulisan edisi Sabtu (24/1), sederet penghargaan yang diraih PDAM Tirta Mulia Pemalang, mulai dari Piala Citra Pelayanan Prima 2006, penghargaan dari Menteri Pekerjaan Umum selama tiga tahun berturut-turut (juara III Tingkat Nasional PKPD-PU Sub Bidang Penyelengaraan Air Minum tahun 2006, juara II di 2007, dan tahun lalu meraih juara I).
“Dari kunjungan ini kami berharap terjadi transfer of knowledge (pertukaran ilmu dan pengetahuan) yang sistematik dan terarah demi perbaikan PDAM Tarakan menjadi semakin lebih baik. Terutama dari segi pelayanan kepada masyarakat maupun penataan organisasi,” harap Roto Priyono, Adviser GTZ Tarakan saat itu.
Prestasi lain yang diterapkan PDAM Tirta Mulia, mereka tiap tahunnya mampu menyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Berturut-turut Setoran ke PAD dari PDAM Tirta Mulia: tahun 2001 Rp 75 juta, Rp 200 juta (2002), Rp 205 juta (2003), Rp 215 juta (2004), Rp 325 juta (2005), Rp1,008 miliar (2006), Rp 814 juta (2007), dan Rp 900 juta (2008).
Hal menarik lainnya yang dilakukan PDAM Tirta Mulia, tiap tahunnya mereka menyisihkan keuntungan bersih perusahaannya sebesar 2,5 persen sebagai zakat air. “Ini merupakan bagian dari upaya kami mensyukuri nikmat Allah,” kata Direktur PDAM Tirta Mulia Aji Setya Budi di depan rombongan dari Tarakan yang terdiri dari: Kabag Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Suriansyah A, Plh Dirut PDAM Tarakan Nuch. Galeba, Dirtek Agus Adnan, Kabag Hubla Purwono, Kasubag Pengolah Data Eka Kustedi, Adviser GTZ Roto Priyono, Kasi Prasarana Lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Gatot Subagio, dan Dilla Wahyuni dari Bappeda.
PDAM Tirta Mulia juga menerapkan struktur organisasi yang ramping, tapi kaya fungsi. Memiliki 17.044 pelanggan, PDAM Tirta Mulia hanya dipimpin satu direktur, dibantu tiga kepala bagian (Bagian Hubungan Pelanggan (Hubla), Administrasi dan Keuangan, serta Bagian Teknik). 
Aji menjelaskan, melalui pola struktur organisasi yang miskin tapi kaya fungsi ini, salah satu orentasi yang akan dicapai adalah peningkatan kesejahteraan karyawan yang mendorong optimalisasi dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) masing-masing.
Berbeda dengan PDAM Tarakan, memiliki 13.191 pelanggan (sesuai data riil di lapangan), “dinakhodai” tiga direktur. Meliputi direktur utama yang sekarang dijabat Nuch. Galeba sebagai pelaksana harian, direktur teknik (sekarang dijabat Agus Adnan), dan direktur umum (sekarang dijabat Sayid Abdul Kadir). Selain itu, ketiga direktur tersebut dibantu 7 kepala bidang atau kabag.
“Kalau jumlah pegawai kami pada 2008 lalu sebanyak 71 orang. Ratio pegawai per 1.000 pelanggan = 4,08,” sebut Aji didampingi tiga kabagnya: Sugeng Riyadi (Adminitrasi dan Keuangan), Budi Setyo Purwanto (Teknik) dan Ronius D.H. (Hubungan Pelanggan).
Kondisi tersebut juga bertolak belakang dengan PDAM Tarakan yang saat ini jumlah karyawannya mencapai 93 orang sesuai disampaikan Dirtek Agus Adnan. (data 2007 bahkan mencapai 104 orang). 
Mengenai perekrutan pegawai, dia menyampaikan sejak 2004 bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegiyopranoto Semarang untuk melakukan seleksi. Harapannya agar mereka yang lulus seleksi sebagai pegawai PDAM benar-benar memiliki kompetensi dalam melaksanakan tupoksinya nanti. 
Di akhir studi banding, sebelum bertolak ke Jakarta dan kembali ke Tarakan, rombongan juga diberi kesempatan mengunjungi salah satu instalasi pengolahan air milik PDAM Tirta Mulia. Dalam kesempatan itu, beberapa rombongan (termasuk penulis) sempat merasakan nikmatnya minum air dari parit tanpa dimasak terlebih dahulu. Pengalaman ini tentu saja tidak bisa ditemui di Tarakan saat ini. Penasaran? Ikuti tulisan bagian terakhirnya besok.(bersambung)



Data Perbandingan 


PDAM Tirta Mulia

Jumlah Pelanggan

2002 12.406
2003 13.766
2004 14.647
2005 15.841
2006 16.418
2007 16.671
2008 17.044

- Dipimpin satu direktur dan tiga kepala bagian (total karyawan 71 orang)
- Sumber air baku dari mata air dan sumur dalam


PDAM Tarakan

Jumlah Pelanggan

2002 6.093
2003 11.000
2004 11.142
2005 11.550
2006 11.359
2007 11.873
2008 12.561 *)

- Dipimpin tiga direktur, 7 kepala bagian/kepala bidang (total karyawan 93 orang)
- sumber air baku dar

CATATAN DARI PEMALANG


TRISNO/RADAR TARAKAN
TRANSPARAN: PDAM Tirta Mulia menerapkan pola keterbukaan, baik dari segi mekanisme pelayanan kepada masyarakat, penerapan tarif hingga mengenai keuangan.

= Bersama GTZ “Berguru” ke PDAM Tirta Mulia Pemalang (2)
Mampu Sumbang PAD, Tiap Tahun Sisihkan Zakat Air

Kemampuan PDAM Tirta Mulia Pemalang memberikan kontribusi bagi pemasukan asli daerah (PAD), merupakan catatan prestasi tersendiri bagi perusahaan tersebut. Tiap tahunnya mereka juga menyisihkan zakat air yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan kegiatan sosial lainnya, terutama bagi daerah yang bertempatan sumber air baku.

SUTRISNO WAHYUDI

SEJAK berubah nama menjadi PDAM Tirta Mulia sesuai Keputusan Bupati Pemalang Nomor 690/364.C tanggal 1 Agustus 2007, Direktur PDAM Aji Setya Budi mengaku, dirinya dan 70 pegawai PDAM lainnya berupaya mengimplementasikan makna yang terkandung dari perubahan nama tersebut.
Dijelaskannya, Tirta Mulia merupakan akronim dari kata – kata: TIRTA: Taqwa, Inovatif, Responsif, Transparan dan Akuntable. Sedangkan MULIA : Mutu, Usaha, Laba, Ilmu dan Amal.
“Tirta Mulia sebagai pedoman sikap dan tekad dalam bekerja sekaligus untuk memberikan dorongan dan motivasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penyedia air minum,” jelas Aji.
Pada kesempatan berdialog dengan rombongan dari Tarakan dalam studi bandingnya di Pemalang, Aji menyampaikan, bahwa modal terpenting yang dilakukan perusahaannya adalah menjalin hubungan yang harmonis dengan pemda setempat maupun pelanggannya yang berjumlah 17.044 (data 2008).
”Harus ada trik khusus untuk melakukan pendekatan dengan berbagai kalangan. Contoh sederhananya kalau berbicara dengan wanita sentuhlah hatinya. Sebaliknya dengan laki-laki lakukan dengan menggunakan logika-logika,” kata Aji.
Tak hanya itu, lanjut dia, jajaran manajemen juga dituntut memiliki kemampuan menyakinkan audiensnya saat membawakan paparan. Apalagi itu menyangkut penawaran proposal berupa program yang akan dilakukan. 
”Dan yang paling penting lagi adalah menjaga kepercayaan dan menjaga hubungan tetap harmonis,” tambahnya.
Cara yang menurut Aji sangat sederhana itu akhirnya membuahkan hasil. Tahun ini saja, PDAM Tirta Mulia mendapat alokasi dana lebih 50 miliar. Antara lain program yang akan dilakukan tahun ini adalah pengembangan investasi dari APBN sebesar Rp 39,3 miliar.
”Salah satu upaya yang akan kami lakukan tahun ini adalah rencana pengembangan air bersih siap minum dengan memanfaatkan reservoir lama yang kondisinya masih bagus. Lokasinya di Desa Gigirpetir yang letaknya tidak jauh dari sungai Comel,” Kabag Hubungan Pelanggan PDAM Tirta Mulia Ronius D.H ketika mendampingi rombongan dari Tarakan melintas di daerah Warungpring usai kunjungan ke sumber air baku di Telaga Gede, Rabu siang (21/1) lalu.
Pria murah senyum itu menuturkan, untuk tahap awal air bersih siap minum yang akan dikembangkan berkapasitas 5 liter perdetik. Produk yang dihasilkan nanti untuk tahap awal pula untuk mensuplai kebutuhan Pemkab Pemalang. ”Perlahan kami akan terus berupaya untuk meningkatkannya,” ujar Ronius.
Ia berharap, melalui pengembangan usaha air siap minum, PDAM Tirta Mulia dalam memberikan kontribusi yang lebih besar lagi bagi PAD Pemalang.
”Tahun 2008, Alhamdulillah kami mampu memberikan setoran ke PDAM sebesar Rp 900 miliar,” sebut Kabag Administrasi dan Keuangan Sugeng Riyadi.
Ya..., Pemkab Pemalang melalui kas daerahnya menerima pemasukan dari PDAM sebesar itu memang tidak cuma-cuma. Sesuai data yang mereka sampaikan di depan rombongan dari Tarakan yang terdiri dari: Kabag Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Suriansyah A, Plh Dirut PDAM Tarakan Nuch. Galeba, Dirtek Agus Adnan, Kabag Hubla Purwono, Kasubag Pengolah Data Eka Kustedi, Adviser GTZ Roto Priyono, Kasi Prasarana Lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Gatot Subagio, dan Dilla Wahyuni dari Bappeda, sejak 2006 pemkab setempat memberikan penyertaan modal bagi PDAM.
”Tapi sekali lagi perlu kami sampaikan untuk mendapatkan kepercayaan ini bukanlah mudah. Kepada pak bupati dan jajarannya juga dengan anggota DPRD, kami harus bisa menyakinkan bahwa jika dana APBD sebagiannya dialokasikan untuk penyertaan modal bagi PDAM tidak sia-sia,” ujar Aji yang baru menjabat sebagai Direktur PDAM Tirta Mulia sejak Agustus 2008 lalu.
Sebagai contoh tahun lalu, penyertaan modal yang diberikan bagi PDAM sebesar Rp 3 miliar. Angka ini lebih besar dari penyertaan modal tahun anggaran sebelumnya. Meliputi: tahun 2006 Rp 750 juta, dan tahun 2007 sebesar Rp 1 miliar.
“Kami harus yakinkan bahwa jika Rp 3 miliar (penyertaan modal bagi PDAM Tirta Mulia tahun 2008, Red.) didepositokan, bunganya hanya 10 persen. Tapi kalau ke PDAM, Alhamdulillah realisasinya bisa Rp 900 juta untuk PAD, lebih besar kalau dari bunga deposito,” kata Aji yang kesehariannya juga mengajar sebagai Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan.
Tahun ini, penyertaan modal bagi PDAM Tirta Mulia yang bersumber dari APBD Kabupaten Pemalang lebih besar lagi yakni sebesar Rp 6 miliar. 
“Kepercayaan ini merupakan tantangan bagi kami. Tapi kami tetap optimis bisa memberikan yang terbaik bagi daerah ini,” ujarnya.
Aji juga menyampaikan, 2009 ini perusahaannya juga memprogramkan pengembangan investasi distribusi wilayah Kota Pemalang sebesar Rp 10,5 miliar, pengembangan investasi di cabang sebesar Rp 600 juta.
“Di samping PDAM induk, kami juga memiliki cabang yakni PDAM Cabang Randudongkal dengan 1.800 sambungan rumah (SR) yang terdapat di sana. Cabang Warungpring yang baru dalam tahap pengembangan dengan 500 SR, Insya Allah tahun ini akan kami tingkatkan,” sebut Ronius.
Cabang lainnya yang berada dalam naungan PDAM Tirta Mulia adalah PDAM Cabang Moga dengan 2.000 SR dan Pulausari. 
“Yang paling banyak SR-nya memang masih dipegang induk, yakni mencapai 13.000 SR dari total pelanggan kami hingga 2008 sebanyak 17.044,” sebutnya lagi.
Aji kembali menyampaikan, tahun ini pihaknya juga program sambungan baru sebanyak 2.500. “Program kami di 2009 lainnya yaitu peningkatan kesejahteraan pegawai, pengangkatan pegawai tetap secara bertahap, peningkatan performance laporan keuangan, dan peningkatan setoran PAD pada Pemda Kabupaten Pemalang,” kata Aji.
Hal menarik lainnya yang dilakukan PDAM Tirta Mulia, tiap tahunnya mereka menyisihkan keuntungan bersih perusahaannya sebesar 2,5 persen sebagai zakat air. “Ini merupakan bagian dari upaya kami mensyukuri nikmat Allah,” ujarnya merendah.
Dalam kesempatan lain, Kabag Hubla Ronius D.H juga menyampaikan, untuk membantu mendorong percepatan pembangunan di wilayah yang bertempatan sumber air baku yang dikelola PDAM Tirta Mulia, perusahaannya menyisihkan Rp 15 perkubiknya dalam setiap penjualan air.
Disampaikan, berdasarkan hasil audit, pendapatan PDAM Tirta Mulia untuk tahun 2007 dari penjualan air mencapai Rp 7.509.291.940. Meningkat dibanding 2006 (hasil audit) yang hanya Rp 5.967.415.435. Pendapatan non air: Rp 528.882.636 (2007) dan Rp 690.907.925 (2006).
Sebagai informasi, dalam melayani 17.044 pelanggannya, PDAM Tirta Mulya mengandalkan potensi alamnya. 2008 lalu, ada 7 sumber air baku yang dimanfaatkan untuk menyuplai kebutuhan masyarakat Pemalang. Itu pun potensi yang ada belum tergarap secara maksimal.
“Dari 7 sumber air baku yang kami manfaatkan baru 187,70 liter perdetik yang terpakai. Sedangkan debit sumber air baku yang ada berdasarkan hasil survei 2.087 liter perdetik,” sebut Ronius.
Sumber air baku yang dimanfaatkan PDAM Tirta Mulya yakni mata air Telaga Gede. Lokasinya berada di kaki Gunung Slamet yang mencakup wilayah pelayanan Kota Pemalang. Sumber air baku lainnya: sumur dalam Karangasem (cakupan wilayah pelayanan Karangasem), mata air Kemiri (cakupan wilayah pelayanan daerah Randudongkal), mata air Bulakan (cakupan wilayah pelayanan daerah Moga), mata air Cipete (cakupan wilayah pelayanan daerah Warungpring), mata air Cipanas (cakupan wilayah pelayanan daerah Pulosari) dan sumur dalam Lenggerong (cakupan wilayah pelayanan daerah Pemalang). 
Dari poin plus yang diperoleh PDAM Tirta Mulia, ada perbedaan yang cukup mencolok dengan kondisi yang dihadapi PDAM Tarakan. Salah satu yang paling mendasar adalah penerapan tarif dasar air (TDA). TDA di Pemalang lebih tinggi ketimbang Tarakan. Padahal, selain ditopang sumber air baku yang melimpah, proses pendistribusiannya hingga ke sambungan rumah juga relatif sederhana. Belum lagi dari segi tingkat kemahalan, Tarakan jauh lebih tinggi.
”Memang kalau kami melihat kondisi PDAM Tarakan seperti gambaran yang disampaikan dalam pertemuan ini TDA di Tarakan jauh lebih rendah,” kata Direktur PDAM Tirta Mulia Aji Setya Budi.
Di Pemalang terhitung Januari 2009, TDA mengalami kenaikan menjadi 1.520 per meter kubik dari sebelumnya Rp 1.290. Sedangkan di Tarakan, TDA ”hanya” Rp1.350 per meter kubik. Yang menarik meski TDA di Pemalang relatif tinggi, tidak ada gejolak yang berarti di tengah masyarakat di sana. Mengapa demikian? (bersambung)