Wednesday, 10 November 2010

Mengikuti Studi Tour Siswa Berprestasi se-Tarakan (1)

Kunjungi Sekolahnya Andhika The Titans, Kagumi Dalagita

Eks bangunan Urfese Larage School di Jl. Sumatera masih terlihat megah. Sehari setelah peringatan Hari Sumpah Pemuda, 40 siswa berprestasi se-Kota Tarakan mengunjungi bangunan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda tersebut. Apa saja kegiatan mereka?

JUMAT pagi (29/10), lalu lintas di pusat kota Bandung terlihat ramai sekali. Terutama di Jl. Sumatera, badan jalannya yang tak terlalu lebar, sedikit merepotkan bus yang mengangkut rombongan studi wisata pendidikan siswa SLTP dan SLTA berprestasi se-Tarakan yang dikoordinir Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan menuju ke bangunan yang dindingnya dipoles cat hijau muda.

“Pagi ini kita ke SMP Negeri 2 Bandung, salah satu sekolah unggulan di Bandung,” kata Sekretaris Disdik Tarakan Ir Edi Susanto MSi yang ikut dalam rombongan study tour.

Tiba di pelataran sekolah, guru dan siswa SMP 2 Bandung yang mengenakan pakaian seragam biru-biru menyambut kehadiran tamunya dengan ramah. Lalu, rombongan diarahkan menuju ke gedung olahraga yang telah direnovasi dan diresmikan 1 Maret 2007.

“Bangunan sekolah kami memang sangat sederhana. Terutama bagian depan, konstruksinya tetap dipertahankan. Walau demikian, dari sekolah ini sudah banyak alumni-alumninya yang jadi orang ternama. Ada yang jadi pejabat seperti Pak Agum Gumelar. Kalau penyanyi malah nggak terhitung lagi,” kata Delis, guru bahasa Inggris di sekolah itu kepada Radar Tarakan yang ikut dalam rombongan.

Sederet alumni SMP 2 Bandung yang menjadi selebriti di antaranya Tri Utami, Rachel Maryam yang sekarang menjadi anggota DPR RI, mantan personel Peterpan yang sekarang bergabung di The Titans: Andhika, dan almarhum Harry Roesli.

“Ini (SMP 2 Bandung) juga sekolahnya Andhika The Titans. Dia termasuk artis yang sering mengunjungi sekolah ini, selagi ada kegiatan di Bandung. Kalau almarhum Kang Harry Roesli, beliaulah yang menciptakan hymne SMP 2 Bandung,” terang Delis lagi.

Dalam waktu yang bersamaan, terdengar kelompok musik angklung membawakan lagu-lagu mancanegara. Rombongan dari Tarakan mengungkapkan kekagumannya lewat tepuk tangan. Bahkan, para siswa yang terpilih mengikuti studi wisata pendidikan karena berprestasi di bidang akademik dan non akademik itu tak melewatkan momen tersebut dengan mengabadikannya melalui kamera digital, kamera ponsel, dan handycame. Beberapa guru pendamping juga tak mau ketinggalan.

“Mereka kompak sekali. Penampilannya sangat bagus,” kata Abdullah, guru SMA 3 Tarakan sembari mengarahkan handycame-nya ke arah panggung.

Usai penampilan kelompok musik angklung, dilanjut penampilan vokal grup terdiri lima siswa SMP 2 Bandung. Kali ini, penampilan mereka yang menamakan vokal grup Dalagita benar-benar mencuri perhatian rombongan Tarakan. Terlebih saat Fauzia Irva Lestari menjelaskan bahwa mereka pernah meraih juara pada even nasional di Festival Lomba Seni Siswa 2010, dan even internasional pada World Choir Games di Tiongkok, Juli 2010.

“Dalagita ini terbentuk 2 tahun lalu. Nama Dalagita memiliki arti gadis remaja dalam bahasa Filipina,” kata Fauzia Irva Lestari sembari memperkenalkan personel Dalagita lainnya yakni Anya, Matia, Nanda, dan Aulia.

Dalagita juga sedang mengikuti kompetisi yang diselenggarakan salah satu stasiun televisi nasional. “Mohon dukungan dengan mengirim SMS sebanyak-banyaknya,” pinta remaja berwajah ayu tersebut.

Sebagai informasi, sejarah SMP 2 Bandung dimulai sekitar tahun 1948 dengan nama Indofuropese Vereneging Kubbk School. Sekolah ini semula berlokasi di Jl. Kalipah Apo, kemudian pindah ke Jl. Kasatriaan, Jl. Papandayan, dan Jl. Babatan. Setelah ke Jl. Sumatera no. 42 pada tahun 1950, berubah nama menjadi SMP 2 Bandung, menempati bangunan bekas sekolah Belanda yang dibangun pada tahun 1913 oleh pemerintah Hindia Belanda dan diambil alih oleh pemerintah Indonesia hingga sekarang.

Dikenal sebagai sekolah unggulan, karena pelajar SMP 2 Bandung kerap meraih prestasi di banyak kompetisi. Mulai even di tingkat regional, nasional hingga internasional. Tak hanya seni, tapi juga olahraga dan bidang ekstrakurikuler lainnya. Lantas apa yang dilakukan pihak sekolah hingga melahirkan siswa-siswa berprestasi?

Pertama diawali mulai dari penerimaan siswa baru. Ada seleksi melalui jalur non-akademis yang dilakukan saat pendaftaran.

“Jalur non-akademis terdiri atas jalur bakat prestasi dan peserta didik tidak mampu,” kata Kepala SMP 2 Bandung Tata Kusnadi MPd kepada Radar Tarakan.

Dia menjelaskan, calon peserta didik yang akan mendaftar melalui jalur bakat prestasi adalah mereka yang mempunyai bakat dan prestasi istimewa dalam bidang intelektual, estetika dan olahraga yang dibuktikan dengan piagam, sertifikat, medali atau piala yang pernah diraihnya.

“Kalau calon peserta didik tidak mampu adalah mereka yang kondisi sosial ekonomi orangtuanya dikategorikan tidak mampu atau miskin sehingga tidak mempunyai kemampuan untuk membayar biaya pendidikan anaknya dengan dibuktikan oleh Surat Keterangan Tidak Mampu dari kecamatan dan SD asal,” terangnya.

Saat pemasukan berkas pendaftaran, pihak sekolah menerapkan map yang berbeda. Misalnya saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2010, bagi calon peserta didik yang memiliki bakat prestasi di bidang olahraga menggunakan map biru, berprestasi di bidang kesenian dengan map kuning, map hijau untuk kreatifitas dan bina prestasi.

“Untuk KKSA (Kartu Kendali Siswa Anak) yang diperuntukkan bagi siswa dari keluarga tidak mampu menggunakan map merah,” jelas Tata Kusnadi.

Pola semacam ini, lanjut dia, memudahkan pihak sekolah dan terutama guru untuk mengetahui potensi yang dimiliki siswanya. Mereka yang berbakat di bidang olahraga, secara intensif terus dibina agar membuahkan prestasi. Demikian pula untuk bidang-bidang lainnya.

“Rutin tiap minggu, kami ada jadwal pembinaan ekstrakurikuler. Dilakukan setelah proses kegiatan belajar mengajar selesai,” imbuhnya.

Dimas Riyanto, siswa kelas 7, misalnya. Dia memilih kegiatan ekskul bahasa Jepang. Kegiatannya dilaksanakan tiap Jumat. Pengajarnya didatangkan dari Jepang. “Namanya mister Kenta,” sebut siswa yang berdomisili di Kota Cimahi, Jawa Barat.

Menurut Dimas, bisa bersekolah di SMP 2 Bandung menjadi kebanggaan tersendiri. Sama halnya dengan sekolah lainnya, sekolah ini juga memiliki guru Bimbingan Konseling (BK) yang senantiasa memantau perkembangan siswanya. Jika ada siswa yang “bermasalah”, maka guru BK yang langsung turun tangan. Tidak langsung menghukum, tapi mencari akar permasalahan yang dihadapi siswa itu. “Kami bisa curhat tentang apapun sama guru BK. Beliau orangnya sangat baik,” kata Dimas lagi.

Coret-coretan terutama yang lazim dilaksanakan pasca pengumuman kelulusan siswa juga tak dilarang. Eitsss...., tapi jangan salah persepsi dulu? “Coret-coretan memang tidak dilarang di sekolah kami, tapi ada tempat khusus,” kata Henisa, salah satu siswi di sekolah.

Sebuah triplek melamin warna putih dipasang di dinding sebuah bangunan yang letaknya di depan toilet. Di tempat inilah menjadi media bagi siswa-siswi untuk coret-coretan.

“Hanya di tempat itu, kalau di tempat lain tidak boleh. Sekolah kami sangat disiplin, itu yang menjadi kebanggaan saya bisa bersekolah di sini,” ujar Dimas Riyanto.

Hal lainnya yang menjadi kekaguman rombongan dari Tarakan, khususnya guru pendamping, adalah budaya cium tangan setiap siswa bertemu dengan guru. Dimanapun mereka bertemu dengan gurunya! Sehingga bukan tidak mungkin, ridho guru menjadi salah satu modal utama bagi siswa untuk melahirkan banyak prestasi.

“Ini tidak hanya di SMP 2 Bandung saja, tapi saat saya berkunjung ke SMK juga demikian. Setiap siswa bertemu gurunya, mereka selalu cium tangan. Ini sangat jarang sekali ditemui di Tarakan,” kata Ibrahim, guru pendamping asal SMK 1 Tarakan.(bersambung/trisno@radartarakan.com)

ASSALAMUALAIKUM WR WB

Lama ku tak memposting blog ini. Hanya satu penyebabnya: lupa pasword. Walau akhirnya teringat kembali.

Saturday, 7 March 2009

CINTA: DUKA SUKA ATAU SUKA DUKA


Cinta bukanlah sebuah misteri
Tapi...terkadang dia bisa digambarkan sebagai sosok yang menakutkan
Menyeramkan...
Membuat trauma bagi semua orang
Dan, mungkin orang itu salah satunya aku


Cinta juga bikin orang tergila-gila
Melupakan pentingnya berpikir secara logika
Yang ada...
Ketika cinta menghampiri, bagaimana membuat si dia bahagia

Cinta, lima huruf yang tak boleh terpisah
Mengandung sejuta makna
Menyimpan banyak duka suka atau suka duka

Andai cinta itu bisa berbicara
Dia pasti akan mengungkapkan fakta
Kalau dia itu tak ubahnya seperti celana dalam
Banyak menyimpan noda
Tapi...selalu cepat dibersihkan penggunanya

Tapi cintaku hanya satu
Tak bisa tergantikan walau hingga langit akan runtuh
Kecuali berganti waktu
Yang satu itu berganti cinta


by: Yudittia

Thursday, 5 March 2009

APAKAH AKU MENCINTAI DIA?


“Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada orang lain” (Al-Hadist)

Did I Marry The Right Person?

Cerita di bawah ini sangat bagus, bagi yang masih single maupun yang sudah menikah. Bagi mereka yang masih single bisa mengambil pelajaran dari cerita ini, dan bagi yang sudah menikah cerita ini bisa jadi guideline untuk meningkatkan ikatan pernikahan yang udah dijalani.

“Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?”

Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, “Bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat?” Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya jadi saya menjawab “Ya.. tergantung. Apakah pria disebelah anda itu suami anda?” Dengan sangat serius dia balik bertanya “Bagaimana anda tahu?!”

“Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini.” Inilah jawabannya… SETIAP ikatan memiliki siklus.Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda. Telpon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat begitu menyenangkan.

Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit. Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan. Nggak perlu berbuat apapun.. Makanya dikatakan “jatuh” cinta…

Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan “aku mabuk cinta”. Bayangkan ekspresi tersebut! Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu saja pada anda. Jatuh cinta itu mudah. Sesuatu yang pasif dan spontan. Tapi…setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akan pudar. Perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan. Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya nggak selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang besemangat bukannya jadi hal yang manis tapi malah nambahin penat yang ada.

Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu. Namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.

Dan pada situasi inilah pertanyaan “Did I marry the right person?” mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya.. Nah Lho! Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cinta yang pernah terjadi, anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia cinta itu dengan orang lain. Dan ketika pernikahan itu akhirnya kandas.

Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan di luar. Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini, mengingkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TV hingga merasa bosan, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.

Tapi tahu tidak?! Bahwa jawaban atas dilema ini tidak ada di luar, justru jawaban ini hanya ada di dalam pernikahan itu sendiri. Mencari pelarian?? Silahkan. Anda bisa! Bisa saja ataupun boleh saja anda mencari pelarian. Mungkin pada saat itu anda akan merasa lebih baik. Tapi itu bersifat temporer, karena setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda). Karena (pahamilah dengan seksama hal ini)
KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN, DAN TERUS MENERUS..!

Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan.
Cinta TIDAK AKAN PERNAH begitu saja terjadi. Kita tidak akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya, tapi kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.

Benar juga ungkapan “diperbudak cinta” Karena cinta itu BUTUH waktu, usaha, dan energi. Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK. Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga berjalan dengan baik. Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini. Cinta bukanlah MISTERI.

Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar. Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu fĂ­sika (seperti gaya Gravitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya. Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat. Beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat. Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa “MEMBUAT” cinta bukan “JATUH”. Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION, dan bukan cuma PERASAAN …!

”Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna “.

Sunday, 1 February 2009

EINSTEIN MEMBANTAH INJIL DAN TAURAT


Albert Einstein adalah salah satu sosok pemikir yang sangat dikagumi sekaligus sangat dibenci di pengujung abad 20 dan bahkan hingga kini. Kenapa demikian? Karena selain penemuan-penemuan spektakulernya di bidang sains dan teknonogi yang sulit ditandingi oleh para ilmuan pada masanya, Einstein kerap melancarkan kritik pedas pada gereja dan doktrin-doktrinnya yang dianggap tidak rasional. Menurut Einstein, gereja telah melakukan ''pembodohan massal'' dengan konsep ketuhanan yang tidak masuk akal.

Kritik yang disampaikan Einstein tersebut sebenarnya berangkat dari kegelisahannya ihwal eksistensi Tuhan yang tak kunjung ditemukan. Ia tidak puas dengan sosok Tuhan yang dipersonalkan atau digambarkan mirip manusia (antropomorfisme) dalam Kitab Injil. Selain itu, ia juga mengkritik filsafat ketuhanan yang dikembangkan oleh gereja yang terkenal dengan istilah Trinitas: Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Sampai akhir hayatnya, Einstein belum menemukan jawaban yang rasional terkait dengan filsafat ketuhanan tersebut. 

Dalam logika Einstein yang mendasarkan pikirannya pada fisika dan matematika, Tuhan yang dipersonalkan jelas tidak masuk akal. Karena itu, dengan tegas ia menolak: ''Tentang Tuhan saya tidak dapat menerima suatu konsep apa pun yang berdasarkan otoritas gereja. Sepanjang yang saya ingat, saya membenci indoktrinasi massal. Saya tidak mengimani karena takut akan kehidupan, takut akan kematian, maupun iman yang buta...'' (hal. 153).

Pernyataan Einstein tersebut tak pelak membuat panas telinga para pemuka agama Nasrani. Ia dianggap mengingkari Al-Kitab yang seharusnya diimani tanpa harus diperdebatkan lagi. Einstein memang cukup berani membongkar sekian ayat yang terdapat dalam kitab Injil yang tidak sesuai dengan nalar logikanya. Ia sama sekali tidak mengimani Injil sebagai sabda Tuhan karena sepanjang penelitiannya terdapat pertentangan antara Injil yang satu dengan lainnya. Dalam Injil Yohanes, misalnya, Eisntein melihat ada pertentangan ayat yang sangat mendasar dengan Injil Barnabas (The Gospel of Barnabas) yang naskah aslinya ditemukan di The Emperial Library Wina, Austria. Atas dasar inilah Einstein semakin tidak yakin akan kebenaran Injil. Apalagi fakta sejarah menunjukkan bahwa ketika Paus St. Glasius I bertahta pada 492-496, Vatikan secara resmi melarang Injil Barnabas beredar dan dibaca oleh umat Kristiani. 

Einstein menilai keputusan tersebut sangat paradoks dan sulit diterima oleh akal sehat. Sehingga dengan lantang ia menuduh Paus telah melakukan campur tangan dalam penulisan Injil. 

Kritik pedas inilah yang membuat vatikan kegerahan. Einstein dianggap terlalu berlebihan dan mengada-ada. Pihak gereja kemudian bergerak lebih cepat untuk menyikapi apa yang telah dikemukakan pemikir yang berpengaruh itu agar tidak mereduksi keimanan umat Kristiani di seluruh dunia. 

Seorang pemuka Nasrani yang berasal dari Lutheran Church of Our Savior, yakni pendeta Carl F. Weldman menanggapi dengan keras pendapat Einstein yang menolak Tuhan dipersonalkan: ''Tidak ada Tuhan selain Tuhan personal! Einstein tidak mengetahui apa yang sedang diucapkannya. Dia salah total!'' (hal. 165). Dalam pandangan Carl F. Weldman, pernyataan Einstein bukanlah termasuk bagian dari pencarian hakiki akan eksistensiNya. Akan tetapi hanyalah sebentuk provokasi yang tidak didasari oleh iman yang kuat. 

Sri Paus Yohanes Paulus II yang bertahta di Vatikan juga ikut menyerang Einstein: ''Menginginkan bukti-bukti ilmiah tentang Tuhan sama dengan merendahkan Tuhan ke derajad wujud-wujud dunia kita dan karenanya kita akan keliru secara metodologis berkenaan dengan apa itu Tuhan. Sains harus mengakui batas-batasnya serta ketidakmampuannya untuk mencapai eksistensi Tuhan, ia tidak bisa mengukuhkan ataupun mengingkari eksistensiNya...'' (hal.169). 

Semua umat Kristiani yang menerima filsafat ketuhanan dengan modal iman jelas menganggap Einstein sebagai pengingkar (kafir). Ilmuan peraih nobel yang pada akhir hayatnya kedua bola matanya dijugil untuk diawetkan itu dituduh atheis karena logika berpikirnya tidak sejalan dengan Al-Kitab. 

Tuduhan yang sama sebenarnya juga dilancarkan oleh para pemuka agama Yahudi yang menganggap Einstein anti-Tuhan karena telah berani menolak untuk menjalani bar mitzvah, yaitu upacara untuk menjadi komunitas orang Yahudi. Sebagaimana diulas oleh Wisnu Arya Wardhana dalam buku ini, sejak kecil Einstein memang hidup dengan ''dua agama'': Yahudi dan Katholik. Jika pada pagi hari ia belajar agama Katholik di Katholik Petersschule, sedangkan sorenya ia menerima pelajaran agama Yahudi dari Alexander Moszkowski, guru privat yang sengaja didatangkan oleh orang tuanya (hal.45). 

Dengan demikian, Einstein sudah mempelajari dengan cukup cermat isi Kitab Talmud (Taurat) dan isi Al-Kitab (Injil) sejak ia masih kecil, yakni saat masih berumur tujuh tahun. Walaupun pada saat itu ia belum berani melakukan koreksi terkait beberapa ayat yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya. 

Hidup dengan dua agama bukanlah sesuatu yang aneh bagi Einstein. Ia belajar agama Yahudi karena termasuk agama leluhurnya, sedangkan pelajaran Katholik ia dalami tak lain karena pencariannya akan eksistensi Tuhan. Namun sepanjang yang dipelajari Einstein dari kedua Kitab Suci tersebut, yakni Taurat dan Injil, sosok Tuhan yang sesuai dengan jalan pikirannya tak juga ditemukan. (*) 

A. Yusrianto Elga, tim penulis Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia: 1908-2008 

Judul Buku : Einstein Membantah Taurat & Injil 

Penulis : Wisnu Arya Wardhana

Penerbit : Pustaka Pelajar, Jogjakarta

Cetakan : 1, 2008

Tebal : xxxiv + 258 Halama

Monday, 26 January 2009

CATATAN PEMALANG


TRISNO/RADAR TARAKAN
DI KAKI GUNUNG SLAMET: Meski berada di selokan, air ini layak minum. Beberapa rombongan dari Tarakan sempat meminumnya. Tampak luapan air dari Telaga Gede. 

= Bersama GTZ “Berguru” ke PDAM Tirta Mulia Pemalang (4-Habis)
“Kapan Lagi Minum Air Selokan Kalau Bukan di Pemalang”

Pengalaman yang cukup mengasyikkan saat studi banding bersama GTZ (Gesellerschaft fuer Techische Zusammenarbeit)– lembaga pemberi bantuan teknis asal Jerman, adalah saat berkunjung ke Telaga Gede. Salah satunya kesempatan menikmati air tanpa dimasak terlebih dahulu yang berada di got (selokan). Berikut catatan Radar Tarakan yang ikut kegiatan tersebut:

SUTRISNO WAHYUDI

PERJALANAN menuju Telaga Gede teramat mengasyikkan. Lelah, pikiran kalut terobati dengan panorama alam nan indah di kanan kiri jalan yang dilalui. Seperti hamparan tanaman padi (Oryza sativa) di petak-petak sawah yang luas, tanaman jagung (Zea mays L) yang sudah memasuki masa panen, dan rindangnya hutan jati (Tectona grandis).
Bukan itu saja, pemandangan yang cukup menyita rombongan adalah tumpukan buah durian (Durio zibethinus) yang dijajakan warga setempat. 
”Habis dari Telaga Gede nanti kita cari duren (buah durian) di daerah Warungpring. Ya...sebelum makan siang. Pokoknya nanti makan duren sepuasnya di rumah pengumpulnya, karena kebetulan dia kolega kami juga,” ajak Ponco Adi Suseno, Kasubag Pelayanan Pelanggan, Pemasaran dan Humas PDAM Tirta Mulia Pemalang sembari menyetir kendaraan yang membawa rombongan dari Tarakan menuju Telaga Gede.
Ajakan ini langsung diiyakan. Terlebih pelaksana harian (Plh) Direktur Utama PDAM Tarakan Nuch. Galeba mengaku punya niatan sebelum rombongan bertolak ke Jakarta dan kembali ke Tarakan bisa terlebih dahulu mencicipi durian khas Pemalang. 
Dari Kota Pemalang menuju Telaga Gede yang merupakan salah satu sumber air baku yang dikelola PDAM Tirta Mulia butuh waktu perjalanan sekitar 1 jam. Kira-kira 45 menit di tengah perjalanan, terlihat pemandangan indah Gunung Slamet. Di kaki gunung itulah muncul mata air, baik yang dimanfaatkan sendiri oleh warga sekitar maupun PDAM Tirta Mulia yang salah satunya dinamakan Telaga Gede.
“Sumber air baku dari mata air Telaga Gede ini untuk cakupan pelayanan air bersih di wilayah Kota Pemalang dan sekitarnya. Tahun ini kami juga merencanakan untuk mengelolanya menjadi air siap minum yang tahap awalnya untuk mensuplai kebutuhan Pemkab Pemalang,” kata Kabag Hubungan Pelanggan Ronius D.H kepada Radar Tarakan.
Dijelaskan, jarak Telaga Gede ke daerah pelayanan sekitar 35 kilometer. Kapasitas terpasang sekarang 140 liter perdetik, sedangkan kapasitas terpakai baru 110 liter perdetik. Sementara itu, potensi air bersih dari Telaga Gede cukup banyak. Debit sumber mencapai 1.200 liter perdetik.
“Jadi sangat melimpah, sampai-sampai karena jaringan yang terpasang di sana tidak mampu menampung, air yang keluar dari sumber mata air Telaga Gede meluber mengaliri sawah warga dan ke sungai Comel,” terangnya.
Ronius mengatakan, untuk melestarikan sumber air baku di Telaga Gede berbagai upaya dilakukan pihaknya. Mulai dari membebaskan lahan warga di sekitar Telaga Gede maupun menjaga daerah tangkapan air (catchment area) agar tidak gersang. Untuk menjaga catchment area, salah satu upaya yang dilakukan PDAM Tirta Mulia berkoordinasi dengan instansi terkait agar wilayah itu ditanami pepohonan yang mampu menjaga kelembaban tanah.
“Kalau pohon jati tidak cocok karena kalau kemarau daunnya rontok sehingga ini bisa mempengaruhi kelembaban tanah yang ada di catchment area,” jelas Ronius.
Guna menjaga kelestarian catchment area dimaksud, ia mengaku juga menggandeng tokoh masyarakat, pemuka agama yang berdomisili di daerah tersebut agar semua pihak merasa memiliki bersama. 
“Alhamdulillah mereka paham setelah kami beri penjelasan bahwa keberadaan sumber air baku mampu menghidupi untuk saat ini sekitar 13 ribu pelanggan PDAM yang berada di Kota Pemalang maupun sekitarnya,” lanjutnya.
Sebagai informasi, Telaga Gede selain berada di kaki Gunung Slamet --- gunung yang memiliki ketinggian 3.432 meter dan berada di perbatasan Pemalang dan Banyumas, masuk wilayah Dukuh Sodong, Desa Pekasur, Kecamatan Belik.
Sumber air baku lainnya yang dikelola PDAM Tirta Mulia: sumur dalam Karangasem (cakupan wilayah pelayanan Karangasem), mata air Kemiri (cakupan wilayah pelayanan daerah Randudongkal), mata air Bulakan (cakupan wilayah pelayanan daerah Moga), mata air Cipete (cakupan wilayah pelayanan daerah Warungpring), mata air Cipanas (cakupan wilayah pelayanan daerah Pulosari) dan sumur dalam Lenggerong (cakupan wilayah pelayanan daerah Pemalang). 
Tiba di Telaga Gede, rombongan disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan alam yang tidak bisa ditemui di Tarakan.
“Subhanallah...seandainya Tarakan diberikan air yang melimpah seperti ini kita tak perlu memikirkan bagaimana mencari pasokan air baku,” kata Direktur Teknik PDAM Tarakan Agus Adnan yang ikut dalam studi banding itu ketika melihat jernih air yang mengalir menuju sungai Comel dan persawahan milik warga Desa Pekasur dari Telaga Gede.
Kepada rombongan, Ronius mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dinas Kesehatan air yang berada dari mata air Telaga Gede meraih poin di atas 9. Maksudnya, air tersebut benar-benar layak dijadikan air siap minum.
“Air mineral dari merek terkenal saja poinnya hanya berkisar antara 7 hingga 8. Kalau mendekati 10, wah air ini benar-benar layak dijadikan air siap minum,” kata Agus Adnan lagi.
Rombongan langsung mendekati sumber mata air. Di sana terdapat tempat penampungan yang telah tersambungkan dengan pipa distribusi berukuran besar. Suara gemuruh air yang terdengar dari dalam tempat penampungan itu menandakan air benar-benar melimpah.
Selain bertanya-bertanya kepada petugas PDAM Tirta Mulia yang mendampingi rombongan dari Tarakan mengunjungi Telaga Gede, beberapa di antaranya (termasuk penulis) langsung terjun tanpa alas kaki ke kolam yang dasarnya berupa tumpukan bebatuan dari gunung itu. Sejuknya air Telaga Gede terasa hingga merasuk ke tulang kaki. ”Kalau mau minum airnya yang dekat sumber,” kata Ponco.
Di dekat sumber yang telah ditutup dengan beton dan telah dimodifikasi itu menuju tempat penampungan air terdapat selokan.
”Kalau mau minum airnya yang di got (selokan), Insya Allah bersih karena melalui beberapa penyaringan,” kata Agus Adnan sembari mengumpulkan air yang mengalir di selokan dengan kedua telapak tangannya, kemudian meminumnya.
“Wah, kayaknya ini baru pertama kalinya saya minum air got. Kalau di Tarakan ’kan tidak mungkin,” celetuk Gatot Subagio, Kasi Prasarana Lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Tarakan yang juga ikut studi banding ke Pemalang.
Tanpa ragu, penulis juga merasakan air got itu. Hmmm....sejuk, benar-benar sejuk. Sangat berbeda rasanya ketika minum air mineral yang banyak dijual di pasar, bahkan merek terkenal sekalipun, atau air bersih yang sudah dimasak olahan PDAM Tarakan.
Dirut PDAM Tarakan Nuch. Galeba langsung membandingkan air Telaga Gede dengan air mineral yang dibawa rombongan dari tempat penginapan. Cara membandingkan, satu eks gelas plastik mineral diisi air dari Telaga Gede, satunya lagi air mineral yang masih berada di wadahnya. Keduanya menggunakan gelas plastik transparan. ”Air yang dari Telaga Gede benar-benar jernih,” kata Nuch.
Radar Tarakan, Dirtek Agus Adnan dan stafnya Purwono (Kabag Hubla) juga tak mau melewatkan melihat dari dekat tempat penampungan mata air Telaga Gede lainnya. Bedanya untuk mencapai ke sana harus mendaki terlebih dahulu karena lokasinya berada di atas. Sembari memegang pipa yang tersambung di tempat penampungan itu, penulis dan dua pegawai PDAM Tarakan itu mendaki jalan setapak yang lumayan terjal dan cukup licin.
”Subhanallah pemandangan di sini sangat indah,” ucap Agus ketika sampai di atas. Kami pun tak mau melewatkan momen ini dengan berfoto bersama.
Untuk diketahui, di lokasi ini juga terdapat segerumpulan pepohonan mulai dari yang baru tumbuh hingga berukuran besar dan tinggi. Namun, kami tak berani melewati di antara pepohonan itu karena informasi dari petugas PDAM Tirta Mulia yang menjaga Telaga Gede, ada tanaman yang di balik helaian daunnya terdapat racun dan bila terkena kulit berbahaya.
Pengalaman mengunjungi Telaga Gede masih menjadi pembicaraan hangat ketika rombongan dalam perjalanan menuju ke Jakarta dengan menumpang kereta api dari Stasiun Tegal.
Agus mengungkapkan, dari kegiatan tersebut ada masukan yang rencananya diterapkan di PDAM Tarakan. Salah satunya terkait pelayanan kepada pelanggan, seperti memberikan doorprize yang diundi tiap bulannya bagi pelanggan yang membayar tagihan air sebelum tanggal 10. 
“Kalau penerapan billing system, PDAM Tarakan jauh lebih baik daripada PDAM Tirta Mulia,” katanya.(***) 

Sunday, 25 January 2009

CATATAN DARI PEMALANG


= Bersama GTZ “Berguru” ke PDAM Tirta Mulia Pemalang (3)
Tidak Mau Terbuka Karena Takut Ketahuan ”Boroknya” Berbahaya

Pelayanan prima terhadap pelanggan menjadi salah satu prioritas utama bagi jajaran manajemen PDAM Tirta Mulia Pemalang. Konsep pelanggan adalah bagian dari keluarga menarik untuk diterapkan. Seperti apa konsepnya?

SUTRISNO WAHYUDI

KEBIJAKAN kenaikan tarif sangat tidak mengenakan bagi instansi mana pun, terutama yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat banyak. Termasuk soal tarif dasar air (TDA). PDAM Tirta Mulia sejak per-Januari 2009 menerapkan TDA baru. Angkanya melampaui TDA yang diberlakukan PDAM Tarakan saat ini.
Sebelumnya TDA di Pemalang sebesar Rp 1.290 per meter kubik. Angka ini sebenarnya terbilang tinggi, jika dikaitkan dengan tingkat kemahalan dan harga-harga barang khususnya sembako di daerah tersebut yang tidak terlalu tinggi. Tapi malahan tahun ini PDAM Tirta Mulia menaikkan menjadi Rp 1.520. Sedangkan di Tarakan, TDA ”hanya” Rp1.350 per meter kubik.
“Tapi Alhamdulillah, masyarakat kami dapat memahami kebijakan penyesuaian tarif PDAM. Ini tak lain karena buah keberhasilan kami dengan menggandeng stakeholder lainnya dalam melakukan sosialisasi,” kata Ponco Adi Suseno, Kasubag Pelayanan Pelanggan, Pemasaran dan Humas PDAM Tirta Mulia.
Ponco menyampaikan, sosialisasi yang mereka lakukan tidak sekadar formalitas. Mereka menggunakan pola pendekatan emosional. Mendatangi pelanggan PDAM dari dusun ke dusun melalui kelompok terkecil masyarakat.
“Seperti kelompok-kelompok pengajian dan arisan, kami bergabung di dalamnya. Itu kami lakukan bukan hanya pas mau ada kebijakan menyesuaikan TDA,” terangnya.
Kepala Bagian Hubungan Pelanggan (Hubla) Ronius D.H. juga menyampaikan informasi yang sama. Bahkan menurut dia, jajaran manajemen maupun segenap pegawai PDAM menempatkan pelanggan merupakan bagian dari keluarga mereka. 
”Jadi pendekatan yang kami lakukan benar-benar pendekatan kekeluargaan. Di samping itu, seperti yang disampaikan pak direktur (PDAM) memang harus ada trik khusus untuk melakukan pendekatan dengan berbagai kalangan, termasuk dengan pelanggan. Contoh sederhananya kalau berbicara dengan wanita sentuhlah hatinya. Sebaliknya dengan laki-laki lakukan dengan menggunakan logika-logika,” kata Ronius.
Melalui pola semacam ini, dia mengklaim, sangat efektif bagi PDAM untuk menyampaikan program dan kebijakannya. Bagi pelanggan, juga tidak segan untuk menyampaikan uneg-unegnya dengan cara santun. ”Jadi benar-benar terjadi hubungan simbiosis mutualisme,” tandasnya.
Dalam perjalanan sepulang dari PDAM Cabang Warungpring menuju Pondok Lesehan Tenda Biru untuk makan siang bersama yang berada di tengah bentangan kebun tebu dan sawah yang ditumbuhi padi nan hijau, Ronius juga mengutarakan beberapa program untuk pelanggan yang saat ini diterapkan PDAM Tirta Mulia.
Seperti pembayaran tagihan air, pihak PDAM menyiapkan doorprize yang diundi tiap bulannya untuk 20 pelanggan yang membayar sebelum tanggal 10.
”Nilai hadiahnya memang tidak terlalu mahal, berupa peralatan dapur. Tapi kami memperlakukannya secara istimewa. Jadi setelah diundi, kami langsung datangi pelanggan yang beruntung untuk memberikan hadiahnya yang tak jarang mereka tidak menyangka bakal meraihnya,” terangnya.
Dikatakan, program ini dilakukan selain membiasakan warga membayar tepat waktu, juga untuk menghindari penumpukan pelanggan di loket pembayaran tagihan air yang kerap terjadi menjelang deadline (tanggal 20).
”Karena kalau loket pembayaran berjubel pelanggan yang akan membayar tagihan air, membuat kondisi ruang tunggu yang telah disiapkan terasa panas dan kurang nyaman. Nah melalui program ini hal-hal tersebut kami hindari,” jelas Ronius.
Konsep menyampaikan keluhan terhadap pelayanan, pelanggan dapat hadiah juga diterapkan PDAM Tirta Mulia. Ia menerangkan, meski perusahaannya menerapkan kebijakan setiap tanggapan 1 x 24 jam harus ditindaklanjuti, tetap saja pada hal-hal tertentu sulit diwujudkan. Walaupun itu lebih sekali dilaporkan. Kondisi ini diakui Ronius memang jarang tapi tetap saja terjadi, misalnya ketika banyak gangguan yang harus ditangani. Kondisi ini tak jarang menyebabkan pelanggan kesal.
”Kami memberikan hadiah bukan semata-mata lepas tanggung jawab. Tapi itulah bagian dari apresiasi kami atas kepedulian pelanggan terhadap PDAM. Kalau mereka tidak melapor, mungkin kami tidak tahu apa yang menjadi keluhan mereka,” terangnya. 
”Jadi melalui pola semacam ini merupakan bentuk bahwa pelanggan bagian terpenting bagi PDAM. Tanpa pelanggan perusahaan ini tidak ada apa-apanya,” lanjut Ronius menuturkan.
Transparansi soal keuangan juga diterapkan PDAM Tirta Mulia. Tiap tahunnya, lewat media lokal (termasuk Radar Tegal, grup Jawa Pos) mereka mengumumkan neraca keuangan. 
”Apa yang kami lakukan ini awalnya sempat ditentang. Tapi kami karena sudah komitmen untuk transparan dan memahami tujuan yang kami lakukan, Alhamdulillah upaya transparansi ini justru didukung banyak kalangan, termasuk dari pemda maupun DPRD,” kata Ronius.
Ia menandaskan, transparansi ini termasuk salah satu upaya menghindari penyimpangan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada PDAM. 
”Tak perlu ada yang ditutup-tutupi. Kalau tak mau terbuka karena takut ketahuan ”boroknya”, itu yang berbahaya. Justru dengan keterbukaan kita tahu di mana letak kelemahan dan kekurangan yang harus diperbaiki demi perbaikan ke depannya,” tegas Ronius.
Seperti tulisan edisi Sabtu (24/1), sederet penghargaan yang diraih PDAM Tirta Mulia Pemalang, mulai dari Piala Citra Pelayanan Prima 2006, penghargaan dari Menteri Pekerjaan Umum selama tiga tahun berturut-turut (juara III Tingkat Nasional PKPD-PU Sub Bidang Penyelengaraan Air Minum tahun 2006, juara II di 2007, dan tahun lalu meraih juara I).
“Dari kunjungan ini kami berharap terjadi transfer of knowledge (pertukaran ilmu dan pengetahuan) yang sistematik dan terarah demi perbaikan PDAM Tarakan menjadi semakin lebih baik. Terutama dari segi pelayanan kepada masyarakat maupun penataan organisasi,” harap Roto Priyono, Adviser GTZ Tarakan saat itu.
Prestasi lain yang diterapkan PDAM Tirta Mulia, mereka tiap tahunnya mampu menyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Berturut-turut Setoran ke PAD dari PDAM Tirta Mulia: tahun 2001 Rp 75 juta, Rp 200 juta (2002), Rp 205 juta (2003), Rp 215 juta (2004), Rp 325 juta (2005), Rp1,008 miliar (2006), Rp 814 juta (2007), dan Rp 900 juta (2008).
Hal menarik lainnya yang dilakukan PDAM Tirta Mulia, tiap tahunnya mereka menyisihkan keuntungan bersih perusahaannya sebesar 2,5 persen sebagai zakat air. “Ini merupakan bagian dari upaya kami mensyukuri nikmat Allah,” kata Direktur PDAM Tirta Mulia Aji Setya Budi di depan rombongan dari Tarakan yang terdiri dari: Kabag Ekonomi dan Pembangunan Setkot Tarakan Suriansyah A, Plh Dirut PDAM Tarakan Nuch. Galeba, Dirtek Agus Adnan, Kabag Hubla Purwono, Kasubag Pengolah Data Eka Kustedi, Adviser GTZ Roto Priyono, Kasi Prasarana Lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Gatot Subagio, dan Dilla Wahyuni dari Bappeda.
PDAM Tirta Mulia juga menerapkan struktur organisasi yang ramping, tapi kaya fungsi. Memiliki 17.044 pelanggan, PDAM Tirta Mulia hanya dipimpin satu direktur, dibantu tiga kepala bagian (Bagian Hubungan Pelanggan (Hubla), Administrasi dan Keuangan, serta Bagian Teknik). 
Aji menjelaskan, melalui pola struktur organisasi yang miskin tapi kaya fungsi ini, salah satu orentasi yang akan dicapai adalah peningkatan kesejahteraan karyawan yang mendorong optimalisasi dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) masing-masing.
Berbeda dengan PDAM Tarakan, memiliki 13.191 pelanggan (sesuai data riil di lapangan), “dinakhodai” tiga direktur. Meliputi direktur utama yang sekarang dijabat Nuch. Galeba sebagai pelaksana harian, direktur teknik (sekarang dijabat Agus Adnan), dan direktur umum (sekarang dijabat Sayid Abdul Kadir). Selain itu, ketiga direktur tersebut dibantu 7 kepala bidang atau kabag.
“Kalau jumlah pegawai kami pada 2008 lalu sebanyak 71 orang. Ratio pegawai per 1.000 pelanggan = 4,08,” sebut Aji didampingi tiga kabagnya: Sugeng Riyadi (Adminitrasi dan Keuangan), Budi Setyo Purwanto (Teknik) dan Ronius D.H. (Hubungan Pelanggan).
Kondisi tersebut juga bertolak belakang dengan PDAM Tarakan yang saat ini jumlah karyawannya mencapai 93 orang sesuai disampaikan Dirtek Agus Adnan. (data 2007 bahkan mencapai 104 orang). 
Mengenai perekrutan pegawai, dia menyampaikan sejak 2004 bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegiyopranoto Semarang untuk melakukan seleksi. Harapannya agar mereka yang lulus seleksi sebagai pegawai PDAM benar-benar memiliki kompetensi dalam melaksanakan tupoksinya nanti. 
Di akhir studi banding, sebelum bertolak ke Jakarta dan kembali ke Tarakan, rombongan juga diberi kesempatan mengunjungi salah satu instalasi pengolahan air milik PDAM Tirta Mulia. Dalam kesempatan itu, beberapa rombongan (termasuk penulis) sempat merasakan nikmatnya minum air dari parit tanpa dimasak terlebih dahulu. Pengalaman ini tentu saja tidak bisa ditemui di Tarakan saat ini. Penasaran? Ikuti tulisan bagian terakhirnya besok.(bersambung)



Data Perbandingan 


PDAM Tirta Mulia

Jumlah Pelanggan

2002 12.406
2003 13.766
2004 14.647
2005 15.841
2006 16.418
2007 16.671
2008 17.044

- Dipimpin satu direktur dan tiga kepala bagian (total karyawan 71 orang)
- Sumber air baku dari mata air dan sumur dalam


PDAM Tarakan

Jumlah Pelanggan

2002 6.093
2003 11.000
2004 11.142
2005 11.550
2006 11.359
2007 11.873
2008 12.561 *)

- Dipimpin tiga direktur, 7 kepala bagian/kepala bidang (total karyawan 93 orang)
- sumber air baku dar